Majalengka, Intijayakoran.com – Pembangunan ruang kelas SDN 1 Prapatan di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, yang menggunakan Dana Alokasi Khusus (DAK) tahun 2024 dengan anggaran sebesar Rp251 juta, diduga dilakukan secara asal-asalan.
Saat tinjauan di lapangan, ditemukan sejumlah kejanggalan, seperti campuran adukan semen yang tampak tidak standar. Adukan terlihat rapuh, menunjukkan penggunaan semen yang tidak memadai. Bahkan, material semen yang digunakan bukan merek Tiga Roda, yang dikenal memiliki standar mutu nasional, melainkan merek lain dengan kualitas yang dipertanyakan. Selain itu, keramik yang digunakan dalam proyek ini disebut-sebut hanya berkualitas KW 3.
Proses pembuatan adukan semen pun dilakukan secara manual, diinjak-injak menggunakan kaki, tanpa menggunakan mesin molen yang dapat menghasilkan adukan berkualitas dan sesuai takaran. Metode ini tidak hanya menurunkan kualitas konstruksi, tetapi juga berpotensi menipu masyarakat mengenai hasil proyek pembangunan.
Saat dikonfirmasi, Kepala Sekolah SDN 1 Prapatan hanya memberikan jawaban singkat, menyebut bahwa proyek ini membawa kerugian. “Tidak mungkin rugi. Kalau anggaran pembangunan di atas Rp200 juta, toko material biasanya memberikan fee tertentu,” ujar salah satu warga setempat yang enggan disebutkan namanya.
Sayangnya, upaya wartawan Intijayakoran.com untuk meminta klarifikasi kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Majalengka tidak membuahkan hasil. Kepala Seksi Pendidikan Dasar (Kasi Dikdas) dan Taman Kanak-Kanak (TK) disebutkan sering tidak berada di kantor.
Menurut salah satu staf Dinas Pendidikan, banyak wartawan yang datang untuk menanyakan hal serupa, seperti mutu bangunan, pengadaan material, hingga teknologi informasi dan inovasi terkait pendidikan. Namun, minimnya respons dari pihak terkait menimbulkan kesan kurang transparan dalam pelaksanaan proyek tersebut.
Mengingat besarnya anggaran yang digunakan untuk pembangunan ini, publik berhak mendapatkan penjelasan mengenai kualitas material dan proses pengerjaan. Proyek rehabilitasi sekolah dasar harus dilakukan dengan standar yang sesuai demi mendukung mutu pendidikan di Majalengka. (Max R)





