INDRAMAYU, Intijayakoran.com –
Alat pengukur kubikasi air atau water meter PDAM yang terpasang di Balai Wartawan Kabupaten Indramayu diketahui hilang.
Hilangnya water meter di tempat bekerjanya para wartawan ini diduga kuat terkait dengan konflik antara wartawan dengan Perumdam Tirta Darma Ayu Indramayu.
Sebelum hilang, tiga hari lalu ada tagihan bulanan yang dikirim ke kantor Balai Wartawan oleh petugas PDAM TDA di Jalan MT Haryono, sehingga dugaan kuat hilangnya water meter akibat dicabut oleh pihak PDAM TDA Indramayu.
Sejumlah anggota wartawan yang biasa berkantor di Balai Wartawan Indramayu kaget saat akan melakukan salat Zuhur. Kondisi air tidak mengalir seperti biasanya sehingga terpaksa menggunakan air di bak mandi yang masih tersisa.
“Pas mau salat Zuhur air di tempat wudu tidak mengalir. Terpaksa saya menggunakan air di bak mandi ruangan Ketua PWI,” jelas Duliman, salah seorang wartawan yang kerap beraktivitas di Balai Wartawan, Kamis (02/07/2026).

Hal yang sama juga dialami oleh Abdul Gani yang melihat ada yang tidak beres di Balai Wartawan. Soalnya, pada hari Senin kemarin air PDAM masih mengalir dan bisa dimanfaatkan untuk aktivitas wartawan dari sejumlah organisasi kewartawanan yang menempati Balai Wartawan.
“Paling di sini airnya digunakan untuk wudu dan digunakan juga oleh warung milik anggota wartawan,” jelas Abdul Gani.
Setelah dicek, ternyata water meter yang sudah terpasang sejak Balai Wartawan berdiri pada tahun 1987 itu hilang.
Uniknya, kondisinya rapi dan hampir sama dengan hilangnya water meter di rumah-rumah warga yang pernah dipublikasikan oleh media beberapa bulan lalu.
“Mencopotnya rapi dan hampir mirip dengan water meter yang hilang di beberapa wilayah kecamatan di Indramayu. Nanti kita sama-sama lihat di CCTV,” jelas sejumlah wartawan lainnya.
Merunut persoalan, pemasangan sambungan air bersih di Balai Wartawan Indramayu sudah dilakukan sejak awal berdiri, yaitu pada tahun 1987 atau sejak masa pemerintahan Bupati Indramayu H. Jahari. Pada masa ini, Pemerintah Kabupaten Indramayu melalui PDAM setempat memberikan layanan gratis pembayaran tagihan untuk Gedung Balai Wartawan sebagai bentuk sinergitas antarlembaga.
Sinergitas ini berlanjut hingga kepemimpinan Bupati Indramayu Nina Agustina.
Namun, di bawah kepemimpinan Bupati Indramayu Lucky Hakim, Perumdam Tirta Darma Ayu melakukan penagihan dan jajaran wartawan sudah berupaya menjelaskan perihal tersebut, namun seolah-olah tutup mata dan terkesan tidak ada sinergitas tersebut.
“Sejak humas PDAM-nya Sutoni, kami selalu jelaskan bahwa sejak masanya Pak Jahari jadi bupati hingga bupati terakhirnya Ibu Nina Agustina tidak pernah ada tagihan dari PDAM. Ini merupakan bentuk sinergitas,” jelas Ketua PWI Indramayu Dedy S. Musashi dan Ketua PWRI Kabupaten Indramayu Sonny.
Mengutip pernyataan Sutoni pada saat itu, bahwa dirinya hanya diperintah oleh pimpinan, dalam hal ini Direktur Utama PDAM Tirta Darma Ayu Indramayu, Nurpan, terkait tagihan tersebut.
“Sejak jamannya Pak Dedi pegang PDAM, Pak Suyanto, Pak Tatang, sampai Pakde Air tidak pernah ada masuk tagihan karena mereka paham makna sinergitas dengan media,” jelas Sonny.
Tidak hanya itu, pihak PDAM Tirta Darma Ayu Unit Pelayanan Sindang juga pernah melakukan hal yang sama, yakni menagih tagihan air bersih. Setelah dijelaskan titik pangkal persoalannya, mereka baru paham. (Cho)





