Dr. Sholeh Basyari: NU Harus Kembali Menjalankan Peran Menjaga Agama, Umat, dan Negara

CIREBON, Intijayakoran.com – Direktur CSIIS dan Aktivis Nahdlatul Ulama (NU) Dr. Sholeh Basyari menegaskan Nahdlatul Ulama harus kembali menguatkan tiga fungsi utamanya, yakni Himayatuddin (menjaga agama), Himayatul Ummah (melindungi umat), dan Himayatul Wathan (menjaga tanah air). Hal itu disampaikan saat menjadi narasumber dalam Dialog Kebangsaan Kader dan Warga NU Cirebon Raya di Pendopo Gunung Jati, Cirebon, Senin (13/7/2026).

Menurut Sholeh, di tengah dinamika sosial dan politik saat ini, NU harus tetap hadir sebagai kekuatan masyarakat sipil yang mampu mengawal arah kebijakan pemerintah demi kepentingan umat dan bangsa. “NU memiliki amanah sebagai penjaga agama, pelindung umat, dan penjaga tanah air. Karena itu, NU harus tetap hadir sebagai kekuatan masyarakat sipil yang mampu memberikan masukan, kritik, maupun dukungan terhadap kebijakan pemerintah demi kemaslahatan umat dan bangsa,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Sholeh juga menyampaikan kebanggaannya dapat bersilaturahmi dengan warga NU Cirebon Raya. Menurutnya, Cirebon merupakan daerah yang memiliki posisi strategis dalam sejarah penyebaran Islam sekaligus perjalanan bangsa Indonesia karena telah melahirkan banyak ulama dan tokoh nasional.

“Cirebon adalah bumi yang mulia, melahirkan banyak ulama, pemimpin, jenderal, dan tokoh bangsa. Cirebon tidak pernah kehabisan kader, tidak pernah kehabisan kiai, dan tidak pernah kehabisan pemimpin,” katanya. Ia juga mengingatkan generasi muda agar tidak hanya bangga terhadap sejarah, tetapi menjadikannya sebagai motivasi untuk memperkuat tradisi keilmuan dan melanjutkan perjuangan para ulama.

Sholeh turut menyinggung kontribusi Kesultanan Cirebon dan para keturunan Wali Songo dalam proses lahirnya Republik Indonesia. Menurutnya, daerah-daerah yang memiliki jasa sejarah tersebut layak memperoleh perhatian lebih dalam pembangunan, terutama di bidang pendidikan, pengembangan sumber daya manusia, dan penguatan peran Cirebon sebagai salah satu pusat peradaban Islam.

Mengakhiri pemaparannya, Sholeh mengajak seluruh kader NU menjadikan semangat perjuangan para ulama sebagai energi untuk memperkuat organisasi, menjaga nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah, serta terus berkontribusi bagi kemajuan bangsa dan negara.

Sementara itu, pengusaha nasional sekaligus pendiri Universitas Muhadi Setiabudi, Dr. (HC) Muhadi Setiabudi, mengajak warga NU membangun kemandirian ekonomi melalui semangat kewirausahaan. Menurutnya, Islam mengajarkan umatnya menjadi pribadi yang kuat dalam aspek ibadah, ilmu pengetahuan, ekonomi, dan pengabdian kepada masyarakat.

“Islam mengajarkan agar umatnya menjadi kuat. Kuat ibadahnya, kuat ilmunya, kuat ekonominya, dan mampu memberikan manfaat bagi banyak orang. Jangan menjadi pribadi yang lemah, tetapi jadilah muslim yang produktif dan mandiri,” ujar Muhadi.

Muhadi menceritakan perjalanan hidupnya yang berawal dari keluarga sederhana di Babakan Ciwaringin, Cirebon. Berbekal pinjaman modal sebesar Rp50 ribu pada 1981, ia merintis usaha perdagangan bambu yang kemudian berkembang hingga memiliki 71 unit perusahaan di berbagai sektor usaha.

Menurutnya, keberhasilan tidak pernah datang secara instan. “Semua dimulai dari nol. Modal kecil itu kami kelola bersama istri dengan penuh kesungguhan. Alhamdulillah, usaha itu berkembang sedikit demi sedikit hingga sekarang menjadi puluhan unit perusahaan,” tuturnya.

Ia pun mengingatkan generasi muda NU agar berani menjadi pencipta lapangan kerja. “Pemerintah mendorong masyarakat menjadi pencipta lapangan kerja, bukan sekadar pencari kerja. Saya berharap akan lahir banyak pengusaha baru dari kalangan warga Nahdlatul Ulama,” katanya.

Selain berbagi pengalaman membangun usaha, Muhadi menekankan pentingnya menjaga integritas melalui kejujuran, amanah, menepati janji, serta melunasi kewajiban. Ia juga mengaku terus aktif dalam kegiatan sosial, khususnya memberikan perhatian kepada anak-anak yatim sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat yang diterimanya.

Menutup dialog, Muhadi mengingatkan bahwa kesuksesan dunia harus berjalan seiring dengan kedekatan kepada Allah SWT. “Sukses bukan hanya tentang kekayaan, tetapi juga keberkahan. Dekatlah kepada Allah, perbanyak ibadah, dan jangan pernah berhenti berusaha. Semoga kita semua diberi kesehatan, umur yang berkah, serta dapat terus memberikan manfaat bagi sesama,” pungkasnya. (Cho/Red/Realis)

www.domainesia.com
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *