INDRAMAYU, Intijayakoran.com —

Pemilik PB Jayapala, H Suganda, angkat bicara mengenai pemberitaan di salah satu media daring yang menyoroti pengelolaan beras di tempat usahanya, di Desa Kedokan Bunder Wetan, Kecamatan Kedokanbunder, Kabupaten Indramayu. Ia menyatakan keberatan karena laporan tersebut dinilai tidak sesuai fakta dan cenderung menyudutkan dirinya.

Saat ditemui di lokasi penggilingan pada Kamis (4/11), pria yang akrab disapa Haji Ganda itu mengaku kecewa. “Saya sangat keberatan dengan pemberitaan yang beredar. Boleh dibilang, berita itu merugikan bukan hanya PB Jayapala, tetapi seolah menyerang pribadi saya,” ujarnya.

Menanggapi keberadaan karung bertuliskan Bulog di area penggilingan, ia menjelaskan bahwa beras tersebut memang sengaja dimasukkan ke dalam karung bekas Bulog. Tujuannya, kata dia, agar beras dapat didinginkan terlebih dahulu sebelum melalui proses pengolahan. “Jika beras dalam kondisi panas langsung diproses, butirannya bisa patah dan menurunkan kualitas,” paparnya.

Ia juga menerangkan bahwa beras yang dimaksud merupakan beras glosoran yang hendak dipoles. Pada 2024, paguyuban mitra di Indramayu mengikuti lelang beras yang digelar di Jakarta. “Paguyuban kami memenangkan lelang sekitar 900 ton. Hasilnya dibagi kepada sekitar 40 mitra. Secara otomatis kami mendapatkan karung berlabel Bulog, dan karung itulah yang kami gunakan lagi agar beras tidak berserakan,” ujarnya.

Dawud, koordinator mitra Bulog wilayah Indramayu Timur.
Dawud, koordinator mitra Bulog wilayah Indramayu Timur.

Lebih lanjut, ia menanggapi tuduhan dari seorang wartawan berinisial B yang menyebut dirinya memakai zat pengawet atau klorin. “Tuduhan itu tidak berdasar. Apakah dia sudah melakukan uji laboratorium? Dampak pemberitaan itu merusak nama baik saya. Saya hanya ingin nama saya dipulihkan karena apa yang diberitakan itu tidak benar,” tegasnya.

Di sisi lain, Koordinator Bulog Wilayah Timur Indramayu, Dawud, turut memberikan penjelasan. Ia menyebut penggunaan karung Bulog oleh mitra bukan hal yang luar biasa. “Secara realistis, itu hal yang wajar. Dari pada beras berserakan, H Ganda memasukkan beras IR ke karung bekas lelang Bulog tahun 2024. Itu bersifat sementara dan tidak menyalahi aturan,” katanya.

Dawud menilai tuduhan adanya praktik pengoplosan dan penggunaan zat tambahan tidak memiliki dasar. “Beras produksi Jayapala itu beras IR asli. Jadi pemberitaan yang kemarin itu hoaks karena tidak sesuai fakta. Itu sangat menyesatkan. Saya bukan membela, tetapi kita bicara berdasarkan fakta,” ujarnya menegaskan. (AK-60)

www.domainesia.com
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *