INDRAMAYU, Intijayakoran.com – Pimpinan dan Anggota Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Indramayu melakukan kunjungan lapangan terkait tersendatnya aliran air PDAM ke masyarakat di Sungai Cimanuk dan pengolahan air di Jatibarang, Kamis (26/3/2026).

Kunjungan lapangan yang dipimpin langsung Ketua Komisi III DPRD, Suhendri dan didampingi Wakil Ketua Komisi III DPRD Kiki Arindi, juga diikuti sejumlah anggota, di antaranya Tatang Sutardi, H. Ruswa, dan anggota lainnya. Kunjungan tersebut langsung dimanfaatkan untuk melakukan Rapat Kerja (Raker) mendadak, Kamis, di wilayah pengolahan air di Jatibarang dengan memanggil direksi Perumdam TDA Indramayu.

Rapat mendadak yang dihadiri dua direksi, yakni Dirum dan Dirtek perusahaan pelat merah tersebut, sebagai pihak yang bertanggung jawab atas adanya keluhan masyarakat Kota Mangga di berbagai tempat atas tidak ngocornya air PDAM dalam sepekan ini.

“Menanggapi keluhan masyarakat, kita langsung ke lapangan memantau air baku dari Sungai Cimanuk. Intinya, persoalan tidak ngocornya air PDAM dan kerap keruh harus segera diatasi, termasuk penyebabnya. Hal ini jangan terus berulang, harus ada solusi nyata dan konkret,” tegas Wakil Ketua Komisi III, Kiki Arindi.

Raker mendadak komisi ini digelar usai melakukan pemantauan ketersediaan air baku di Sungai Cimanuk. Dalam Raker yang dihadiri sejumlah direksi Perumdam TDA Indramayu, turut menjadi sorotan anggota dewan dari Fraksi Partai Golkar yang selama ini getol dan aktif dalam pengawasan BUMD serta sering melakukan kunjungan lapangan menyelaraskan isu yang berkembang.

“Ini lagi Raker dengan direksi. Rapat di Jatibarang baru selesai,” kata Tatang singkat.

Menurut Tatang Sutardi yang juga mantan Dirut PDAM TDA, Raker mendadak ini salah satunya karena adanya keluhan masyarakat terkait tersendatnya atau tidak ngocornya aliran air PDAM dalam sepekan ini yang juga keruh.

Ketua Forum Peduli Indramayu (FPI), Masdi, turut bersuara keras. Jika tidak bisa mengatasi hal produksi seperti ini, Dirut Nurpan sebaiknya mengundurkan diri karena dianggap gagal, ditambah sengkarut keuangan black transfer Rp2 miliar yang kasusnya masih menggantung.

Menurutnya, alasan 40 persen dari hasil produksi yang hanya bisa dialirkan ke konsumen mestinya bisa diantisipasi dari awal.

Kalau produksinya hanya 40 persen yang bisa dialirkan ke konsumen, lanjut Masdi, mestinya dibarengi dengan pembatasan pemasangan baru agar yang 40 persen tadi tidak berkurang dengan konsumen baru.

“Penambahan konsumen baru banyak, tapi produksinya masih tetap. Ini kebijakan lucu dan amburadul. Kegagalan teknis ini juga sebagai tanggung jawab Dirtek Jojo Sutarjo. Sudahlah mundur saja sebagai konsekuensi kegagalan dan lebih baik fokus menghadapi persoalan hukum dugaan korupsi pengadaan barang dan jasa senilai Rp39 miliar lebih yang sedang proses di Kejaksaan Negeri Indramayu,” tegas Masdi.

Diberitakan sebelumnya, sudah seminggu air dari PDAM atau Perumdam Tirta Darma Ayu (TDA) Kabupaten Indramayu tidak ngocor.

Sejak Lebaran Idul Fitri, warga Desa Panyindangan Kulon, Desa Terusan Kecamatan Sindang, serta Panyingkiran Lor Kecamatan Cantigi, termasuk Jatibarang, mengeluhkan dan protes keras akibat tidak ngocornya air di wilayah tersebut.

Keluhan ini viral di media sosial dan warga pun (pelanggan) mengancam tidak akan membayar tagihan bulanan air serta mengajak warga lain untuk boikot bayar bulanan.

“Bulan ini bayaran sampai Rp200 ribu, padahal air enggak ngucur selama seminggu. Saya enggak mau bayar sebelum air PDAM dibersihkan dan ngocor kembali. Saya ini kelaparan air bersih seminggu,” ujar salah satu warga Panyindangan Kulon, Titi (42), dalam unggahan videonya yang diposting di medsos X, termasuk beredar luas ke grup WhatsApp wartawan, Kamis (26/3).

Menurutnya, aliran air PDAM bulan Maret 2026 di Blok Pecuk praktis tidak ngocor sama sekali. Sebagai bentuk protes itu, dirinya enggak mau membayar tagihan air.

Dia berharap PDAM Cabang Sindang segera menindaklanjuti dengan perbaikan sesungguhnya agar airnya kembali normal seperti sediakala. Jangan karena alasan yang berulang akibat kelangkaan air baku atau air baku kotor menjadi alasan tanpa solusi.

“Bukan hanya saya, tapi yang saya tahu satu blok ini semuanya tidak mengalir air PDAM. Kalau blok lain nggak tahu ya,” keluhnya.

Manajer Cabang Sindang Perumdam TDA, Lina Aryani, yang dihubungi awak media ini bungkam. Saat dikonfirmasi, Kamis (26/3), lewat WhatsApp-nya tidak merespons.

Alih-alih memberikan kepastian terkait langkah perbaikan, pihak perusahaan melalui akun Instagram resminya @perumdamtda_indramayu hanya mengeluarkan imbauan kepada pelanggan untuk menampung air dan menggunakannya secara bijak.

Imbauan tersebut dinilai tidak relevan dengan kondisi di lapangan. Pasalnya, banyak pelanggan menyebut air tidak mengalir sehingga tidak memungkinkan untuk melakukan penampungan seperti yang dianjurkan.

Informasi yang terakses Intijayakoran.com menyebutkan tingkat kekeruhan air baku dari Sungai Cimanuk tinggi. Proses produksi hanya dapat 40 persen, sisanya lumpur sehingga menyebabkan air keruh dan tidak ngocor. Berbeda dengan Cirebon dan Kuningan yang sumber airnya dari mata air Gunung Ciremai di Kuningan. (Cho)

www.domainesia.com
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *