INDRAMAYU, Intijayakoran.com-

Pemerintah Desa (Pemdes) Bangodua Kecamatan Bangodua Kabupaten Indramayu Jawa Barat menggelar tradisi adat mapag sri sebagai bentuk ungkapan rasa sukur atas hasil panen padi yang berlimpah.

Acara mapag sri dilaksanakan Rabu (28/5). Acara ini berlangsung di halaman Kantor Desa Bangodua. Selain diisi acara doa bersama yakni tahlilan, dilanjutkan juga makan bersama antar pamong desa dengan masyarakat yang hadir pada acara tersebut.

Untuk memeriakan acara mapag sri di gelar juga acara hiburan siang malam pagelaran wayang kulit Bhudi Suara ki dalang Asep Rusdianto dengan diringi sinden Een Suherna dari Desa Gegesik Wetan Kabupaten Cirebon.

Acara mapag sri merupakan adat warisan leluhur yang masih di jaga dan di lestarikan masyarakat hingga kini.

Agus Safruddin, Kuwu Bangodua ketika di temui awak media menjelaskan, mapag sri memiliki makna menjemput rejeki dari hasil panen para petani sawah yang berlimpah. Menurutnya tradisi ini di gelar sebagai bentuk rasa sukur kepada sang pencipta atas hasil panen padi yang serentak.

Syukuran ini juga melibatkan semua masyarakat Desa Bangodua yang bertani sawah atau lainnya, agar dengan bersyukur mengasilkan panen padi yang bagus dan berlimpah.

Tradisi ini sudah dilakukan turun temurun sejak zaman dulu.

Ditambahkan, selain doa bersama dan tahlilan, warga juga membawa

nasi tumpeng lauk pauk bekakak ayam untuk makan bersama, ‘ini merupakan bentuk rasa kebersamaan dan kekeluargaan yang selama ini kami jaga,”ujar Agus Safruddin .

Masyarakat terlihat antusias menyambut adat ini, mereka datang berbondong-bondong membawa nasi tumpeng sambil ketempat acara sambil menunggu rangkaian doa, di lanjutkan makan bersama.

Hadir pada acara tersebut dari unsur muspika kecamatan Bangodua, unsur Polsek Tukdana, dari Koramil Tukdana, unsur pamong desa Bangodua, BPD dan unsur tokoh masyarakat, serta ibu-ibu yang

berperan aktif mempersiapkan tumpengan untuk komsumsi bagi yang hadir.

Tradisi mapag sri di Desa Bangodua bukan hanya serimonial adat, melainkan perwujudan nilai gotong royong dengan rasa kebersamaan serta penghormatan terhadap alam yang mengasilkan hasil dari bumi.

Suasana haru dan bahagia terpancar dari raut wajah warga yang hadir, menjadikan tradisi ini tak hanya sakral tapi juga penuh makna. (PENDI)

www.domainesia.com
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *