INDRAMAYU, Intijayakoran.com –

Pembangunan Embung Sumbermulya adalah sebuah kegiatan konstruksi di Kabupaten Indramayu yang ditujukan untuk menampung air hujan dan mendukung program ketahanan pangan dan air di wilayah tersebut.

Proyek ini merupakan inisiatif Pemerintah Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, untuk meningkatkan kualitas pengelolaan sumber daya air. Proyek pembangunan embung di Desa Sumbermulya menunjukkan perhatian terhadap infrastruktur dan kesejahteraan masyarakatnya.

Pemerintah Desa Sumbermulya menyambut baik pembangunan embung atau cekungan penampung (retention basin) tersebut.

Pembangunan embung itu ditujukan untuk mengairi areal pesawahan di Desa Sumbermulya, Kecamatan Haurgeulis, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.

Secara umum, embung digunakan sebagai sarana pengendali air untuk keperluan tertentu. Sebagai tempat penampung air, embung memiliki banyak fungsi. Selain bermanfaat bagi manusia, embung juga berperan dalam menjaga keseimbangan alam.

Sejumlah aparat Desa Sumbermulya mengatakan, pembangunan embung ini fungsi utamanya adalah untuk pertanian. Tujuannya menampung air hujan dan aliran permukaan (run off) pada wilayah sekitarnya serta sumber air lainnya yang memungkinkan, seperti mata air, parit, sungai-sungai kecil, dan sebagainya.

Menurut mereka, embung kali ini dibangun dari anggaran APBD Indramayu. Tahun 2024 lalu dianggarkan hampir Rp300 juta.

Menurut Taryono, embung dibangun di atas tanah desa seluas 4 hektare untuk mengairi areal persawahan seluas 550 hektare di wilayah Sumbermulya.

“Semoga embung mampu menahan peresapan air. Tujuannya adalah menjaga agar air tidak cepat surut ke dalam tanah,” ujarnya.

Petani setempat, Caridi (48), mengapresiasi pembangunan embung di Sumbermulya. Menurutnya, pembangunan embung sangat tepat dan representatif karena selain dekat dengan saluran air yang ada di sekitarnya, juga supaya pada saat hujan, air di permukaan tanah mudah dialirkan ke dalam embung.

Umumnya embung digunakan untuk mengairi padi saat musim kemarau, mengingat air dari embung sangat terbatas.

“Dengan adanya embung, maka petani terbantu karena dapat berfungsi menampung air saat musim hujan untuk persiapan musim kemarau,” katanya.

Menurutnya, pemakaian air juga harus disesuaikan dan seefisien mungkin. Apabila air embung akan digunakan untuk mengairi padi, dianjurkan hanya pada saat-saat tertentu, seperti pada stadia primordia dan pengisian bulir padi. Sedangkan setiap kali mengairi tanah, cukup sampai pada kondisi jenuh air.

“Dengan adanya pembangunan embung ini, tentunya jika terjadi kekeringan selama musim kemarau dan dampak El Nino, masih ada ketersediaan air untuk pertanian,” ujarnya.

Warga setempat, Waslim dan Corob, mengakui dengan adanya embung untuk pertanian ini, tentunya akan membentuk lumbung-lumbung desa yang sangat membantu pemerintah dalam menjaga ketahanan pangan nasional dan daerah.(Cho)

www.domainesia.com
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *