INDRAMAYU, Intijayakoran.com —
Kontroversi mencuat menjelang aksi unjuk rasa Gerakan Rakyat Indramayu (GRI) yang dijadwalkan berlangsung pada Selasa (7/10), bertepatan dengan peringatan Hari Jadi ke-498 Kabupaten Indramayu. Aksi tersebut menuai pro dan kontra, terutama di ruang publik media sosial.
Sejumlah pihak menganggap aksi GRI tidak pada tempatnya karena digelar di hari yang dianggap sakral bagi masyarakat Indramayu. Gelombang kritik dan cibiran muncul dari warganet dan tokoh masyarakat yang menilai demonstrasi itu dapat mencederai semangat kebersamaan dalam perayaan hari jadi daerah.
Salah satu kritik datang dari Direktur Iqro, Toto Suranto atau yang akrab disapa Tosu. Ia mempertanyakan urgensi aksi yang dilakukan di tengah momen perayaan tahunan masyarakat Indramayu. “Hari itu bukan hari biasa. Ini momentum sakral. Rakyat butuh harapan, bukan kegaduhan,” ujarnya.
Sementara itu, menjelang pelaksanaan aksi, beredar foto yang memperlihatkan Muhammad Sholihin—pentolan GRI—bersama Bupati Indramayu Lucky Hakim di Pendopo. Foto itu menimbulkan spekulasi dan tudingan bahwa Sholihin telah berkompromi dengan pihak yang selama ini dikritiknya.
Namun, tudingan itu dibantah oleh sejumlah tokoh, termasuk T. Karsohadi, yang menyebut foto tersebut merupakan dokumentasi lama. Ia menjelaskan bahwa foto itu diambil tujuh bulan lalu saat Sholihin membantu memulangkan seorang TKI asal Indramayu, Robiin, yang menjadi korban perdagangan manusia di Myanmar. “Isu ini adalah bentuk penggembosan dan pembunuhan karakter,” ujar Karsohadi.
Menurutnya, tuduhan yang mengarah ke fitnah itu sengaja digaungkan oleh orang-orang loyalis Bupati Lucky dengan tujuan membunuh karakter pentolan GRI (Sholihin) agar dicap jelek sebagai pengkhianat, dan sekaligus melemahkan gerakan demo yang akan digelar besok.
Muhammad Sholihin pun membantah keras tuduhan tersebut. Dihubungi Senin (6/10) pagi, ia menegaskan aksi tetap akan digelar di Pendopo dan Gedung DPRD Indramayu. “Foto yang beredar itu rekayasa framing lama. Kami tetap turun dengan kekuatan massa sekitar 1.500 orang,” katanya. Ia juga mengajak masyarakat bergabung untuk menyuarakan kritik terhadap kepemimpinan Bupati Lucky yang dinilai penuh pencitraan.
GRI menilai sejumlah kebijakan Bupati Lucky tidak berpihak pada rakyat dan sarat dengan dramatisasi. Aksi esok hari diklaim sebagai bentuk koreksi publik terhadap kepemimpinan daerah yang dinilai gagal, diduga korup, KKN, serba transaksional dan menyimpang dari harapan warga. (Cho)





