INDRAMAYU, Intijayakoran.com–

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Forum Perjuangan Wartawan Indramayu (FPWI), Tomi Susanto atau Tomsus, secara tegas menyatakan dukungannya terhadap Program Strategis Nasional (PSN) terkait revitalisasi tambak ikan nila salin di wilayah Indramayu. Program ini dinilai sebagai langkah krusial untuk meningkatkan ekonomi kerakyatan dan kedaulatan pangan nasional.

Namun, di tengah upaya percepatan pembangunan tersebut, Tomi menyayangkan sikap salah satu forum masyarakat yang memilih jalan konfrontatif. Ia menyoroti aksi demonstrasi yang berakhir dengan perusakan fasilitas umum (fasum) beberapa waktu lalu.

Tomsus menyampaikan aspirasi adalah hak demokrasi, namun tindakan anarkis yang merusak aset negara tidak dapat dibenarkan dengan alasan apa pun.

“Sangat disayangkan aksi penolakan tersebut harus diwarnai dengan perusakan fasilitas umum. Fasum itu dibangun menggunakan uang rakyat untuk kepentingan bersama, merusaknya justru merugikan masyarakat luas, bukan solusi bagi aspirasi yang dibawa,” ujar Tomi saat ditemui.

Soroti Isu Politisasi Koin Sumbangan

Situasi kian memanas setelah Bupati Indramayu meminta pihak penanggung jawab aksi untuk bertanggung jawab atas kerusakan fasum yang terjadi. Menanggapi tuntutan tanggung jawab tersebut, muncul gerakan dari forum masyarakat tersebut berupa aksi pengumpulan koin sumbangan.

Tomi menilai gerakan pengumpulan koin tersebut merupakan bentuk politisasi isu untuk menarik simpati publik sekaligus menghindar dari tanggung jawab konstitusional.

“Setelah diminta bertanggung jawab oleh Bupati, kini muncul isu baru berupa aksi pengumpulan koin. Kami melihat ini sebagai upaya mempolitisasi keadaan. Seharusnya, energi tersebut dialihkan untuk dialog konstruktif mengenai dampak positif revitalisasi tambak, bukan malah menciptakan opini yang memojokkan pemerintah daerah yang sedang menjalankan mandat nasional,” tegasnya.

FPWI berharap masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh kepentingan kelompok tertentu yang ingin menghambat proyek strategis nasional. Revitalisasi tambak nila diharapkan mampu mengubah wajah pesisir Indramayu menjadi sentra produksi perikanan modern yang mampu menyerap banyak tenaga kerja lokal.

Tomi mengajak semua pihak untuk kembali ke meja diskusi dan mendukung program yang memiliki visi jangka panjang bagi kesejahteraan warga Indramayu.

Diberitakan sebelumnya, pasca aksi unjuk rasa Koalisi Masyarakat Pesisir Indramayu (KOMPI) yang berujung pada perusakan fasilitas umum Alun-alun Indramayu, beredar sebuah video penggalangan dana pengumpulan koin.

Pengumpulan koin ini sebagai bentuk kepedulian dan pertanggungjawaban pendemo untuk memberesi Fasum yang rusak.

Gerakan penggalangan dana dengan cara unik mendatangi wilayah tambak dan menemui langsung para petani dilokasi area lahan tambak yang jadi sumber gugatan KOMPI ini sudah terkumpul ribuan koin, seperti yang terekam di video yang beredar Sabtu (4/4/2026) siang.

Dalam rekaman itu, sejumlah masyarakat tampak berkumpul dalam kesederhanaan. Mereka tidak lagi membawa spanduk atau menyuarakan tuntutan, melainkan mengulurkan tangan, mengumpulkan koin demi koin.

Suara kecil logam yang saling beradu terdengar lirih, seolah menjadi gema dari peristiwa besar yang baru saja berlalu.

Penggalangan dana itu dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab atas kerusakan yang terjadi. Bukan dengan kemewahan, bukan pula dengan kemudahan, melainkan dari apa yang mereka miliki, sedikit demi sedikit, namun dilakukan bersama-sama alias patungan.

Di balik koin-koin yang terkumpul, tersimpan makna yang lebih dalam. Ada kesadaran yang tumbuh, bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi. Dan ketika kesalahan telah terjadi, yang tersisa adalah keberanian untuk memperbaiki.

Peristiwa ini menjadi potret yang kontras. Di satu sisi, amarah sempat meluap dan tak terkendali. Namun di sisi lain, muncul ketulusan untuk bertanggung jawab tanpa sorotan, tanpa panggung, hanya dilandasi niat untuk memulihkan kerusakan fasilitas umum alun-alun Indramayu yang sempat jadi kecaman dan sorotan publik.

Video tersebut seakan menjadi pengingat bahwa di tengah kerasnya gelombang kekecewaan, nurani masyarakat tidak sepenuhnya hilang. Ia tetap hidup, perlahan, dalam tindakan-tindakan kecil yang mungkin tampak sederhana, namun memiliki arti yang besar.

Keping demi keping koin itu bukan sekadar alat tukar. Ia menjelma menjadi simbol kebersamaan, kepedulian, dan harapan, bahwa apa yang sempat retak, masih bisa diperbaiki, selama ada kemauan untuk saling bertanggung jawab.

“Kita mulai mengumpulkan koin untuk ganti rugi kerusakan fasum Alun-alun Indramayu,” kata suara di rekaman video yang beredar di viral sambil menghitung koin receh yang sudah terkumpul.

Hingga berita ini diturunkan belum ada keterangan berapa jumlah koin yang sudah terkumpul. (Cho)

www.domainesia.com
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *