INDRAMAYU, Intijayakoran.com– Batalnya gerakan unjuk rasa Forum Peduli Indramayu (FPI) Kamis (12/2) diduga akibat adanya pecah kongsi di tubuh internal FPI.
Bahkan dari 10 Korlap (Koordinator Lapangan) yang mewakili dari unsur elemen masyarakat, dua diantaranya secara terbuka mundur menarik diri dari pergerakan FPI.
Salah satu yang menyatakan terang-terangan mundur dari pergerakan yakni DPC BPPKB (Badan Pembinaan Potensi Keluarga Besar) Banten Kabupaten Indramayu.
Wakil Ketua DPC BPPKB Banten Kabupaten Indramayu, Benny Raharjo menegaskan, pihaknya sebenarnya yang mengundurkan diri paling awal atas batalnya demo FPI hari ini menyikapi polemik jabatan Stafsus Salman Al-Farisi.
Penarikan diri lembaganya, karena adanya peserta yang mau cari panggung sendiri demi untuk kepentingan pribadi.
Selain itu, pihaknya tidak lagi sejalan dan sepaham karena tuntutannya jadi melebar tidak karuan.
“Dengan hal itu, kami dari Ormas BPPKB dengan tegas menarik semua pasukan yang sudah siap melaksanakan aksi demo. Pengunduran diri ini kami yang mengawali dan diikuti elemen lain,”jelas Benny Raharjo dalam keterangan resminya kepada Intijayakoran.com, Kamis (12/2).
Sikap BPPKB tegas. Jika kami akan melaksanakan demo kembali, maka yang disertakan hanya dari Ormas dan LSM tertentu yang masih sejalan.
Menurutnya, BPPKB akan terus melakukan pergerakan dan perjuangan untuk kebaikan masyarakat Indramayu, menuntut Stafsus Salman Al-Farisi agar di copot dari jabatannya karena sudah membuat gaduh dan mengganggu kondusivitas rakyat kota mangga.
“Sepertinya gerakan kita tidak dalam waktu dekat karena menghormati bulan suci Romadhon. Kami akan bergerak dengan Ormas dan LSM yang sejalan, bila perlu kami turun ke jalan sendiri. Dari 22 DPC yang aktif anggota kami sekitar 700 lebih,” beber Benny.
Ditambahkan Benny, pilihan mundur dari pergerakan FPI sudah bulat. BPPKB tidak mau bergerak didasari kepentingan individu dan kelompok tertentu, dan terkesan ada penumpang gelap yang numpang di pergerakan demi kepentingan pribadi dan kelompoknya.
“Jujur, perubahan rute dan tuntutan yang menyangkut desakan Ketua DPRD untuk mundur, dan tuntutan bentuk Pansus DPRD menyikapi Perumdam TDA itu sudah melenceng dari tuntutan awal, sehingga kami lebih baik mundur. Gak ada kita di rapat jadi orasi ke DPRD, itu kepentingan segelintir orang,” beber Benny, menanggapi surat perubahan rute yang beredar luas di publik.
Sebelumnya, pembatalan atau ditundanya unjuk rasa FPI ke Pendopo Indramayu, Kamis pagi (12/2) terkait polemik jabatan Staf Khusus (Stafsus) Salman Al-Farisi mendapat tanggapan nyinyir (berpendapat negatif) warganet.
Sepanjang Rabu malam, banyak unggahan warganet yang memposting surat pengumuman pembatalan aksi demo sambil menuliskan kata sindiran dan nyinyir.
Bahkan, ditundanya aksi turun jalan FPI ramai diperbincangkam di sejumlah group WhatsApp jurnalis yang menjadi topik utama pembahasan.
“Tayamum lagi,”tulis akun Gunawan yang di posting di akun X miliknya sambil memasang surat pembatalan aksi.
Ungkapan bernada sindiran dan negatif juga ditulis Eryanto dan Toha dalam percakapan di group WhatsApp jurnalis. “Dinae wis di boking dikit lokasie dadi ora oli tempat. Ora keduman dina keburu di gondol Salman kabeh, (Hari dan lokasinya sudah di booking dulu jadi ga dapat tempat. Iya ga kebagian tempat sudah diborong Salman semua, red).
Tak kalah keras cuitan yang di tulis Irsad dalam akun medsos miliknya. “Rencana aksi gagal di karenakan sudah menyimpang dari kesepakatan awal. Banyak penumpang gelap? tulis akun Irsad yang di posting Rabu malam pukul 22.48 WIB di akun X miliknya.
Diketahui, dalam surat pemberitahuan ijin Unras yang dikirim ke Polres Indramayu awal pekan lalu, Senin (9/2), Irsad adalah salah satu koordinator lapangan (Korlap) demo FPI yang tercatat dalam surat ijin pemberitahuan tersebut.
Dihubungi Intijayakoran.com, Aktivis Ahmad Nur Irsyad yang juga Ketua WN 88 mengaku kaget ada pembatalan demo karena tidak diberi tahu. “Emang demo FPI gagal? Saya ga diberi tahu kok,”jelas Irsad sambil mengijinkan postingan dirinya menyikapi gagalnya Unras FPI di publikasi media ini.
Sementara itu, Koordinator Umum (Kordum) FPI, Masdi dalam siaran pers nya Rabu malam (11/2) menjelaskan, ditundanya rencana aksi unjuk rasa, Kamis pagi ini ke kantor Pendopo Pemkab Indramayu karena menghargai euforia (perasaan gembira) rakyat Indramayu yang akan menyaksikan pelantikan Kuwu terpilih, Kamis (12/2) siang di Pendopo.
“Atas berbagai pertimbangan, kami memutuskan mengundurkan jadwal demo FPI. Pembatalan demo ini sebagai bentuk kepedulian kami pada Rakyat Indramayu yang euforia atas pelantikan Kuwu terpilih yang bentrok dengan jadwal demo FPI. Ini tulus sebagai bentuk kepedulian kami,”kata Kordum Masdi usai memberikan surat pembatalan di Mapoles Indramayu didampingi dua korlap, Asmawi Day dan Bang Iful.
Dibeberkan Masdi, pembatalan ini merupakan keputusan bulat semua Korlap karena satu itikad menjaga kondusivitas kota mangga dan bentuk nyata kepedulian FPI kepada rakyat Indramayu yang sedang bahagia menyambut dilantiknya Kepala Desa atau jagoan Kuwunya yang terpilih.
“Mundur ini sifatnya sementara. Kami tetap akan melakukan unjuk rasa dalam waktu dekat, dengan tuntutan agar keberadaan Staf Khusus (Stafsus) Salman Al-Farisi dicopot dari jabatannya dan pulang ke daerah asal Madura,”tegas Masdi.
Sementara itu, perwakilan koordinator lapangan Asmawi Day dan Bang Iful menegaskan, aksi turun ke jalan untuk menyuarakan pencopotan Stafsus Bupati Indramayu, Salman Al-Farisi, dari jabatannya masih teragendakan sebagai prioritas gerakan.
“Selama pihak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Indramayu, dalam hal ini Bupati Lucky Hakim belum menyetujui tuntutan FPI mencopot Stafsus Salman, pihaknya akan tetap menggelar unjuk rasa di pendopo,” kata aktivis, Asmawi Day.
Namun, waktu demo yang sedianya digelar Kamis (12/2) dimundurkan mengingat ada pelantikan Kuwu terpilih.
“Persiapan kami sudah matang. Banner, spanduk, dan perangkat demo lainnya sudah dipersiapkan. Kita tinggal eksekusi hari Kamis untuk menggelar demo dengan tuntutan mengusir Stafsus Salman dari Bumi Wiralodra. Tuntutan kami sederhana, copot jabatan Stafsus Salman karena sudah bikin gaduh warga Indramayu,” tambah Iful, sambil menegaskan surat perubahan waktu demo dan pemberitahuan izin ke Polres Indramayu segera di umumkan publik.
“Kami tetap seperti awal, satu tujuan dan satu titik berorasi di depan Pendopo untuk menyuarakan agar Salman dicopot, mereka sudah bikin gaduh dan memancing amarah rakyat Indramayu,” jelas Iful tegas. (Cho)





