INDRAMAYU, Intijayakoran.com – Gelombang unjuk rasa dipastikan terus bergulir menyikapi keberadaan Staf Khusus (Stafsus) Bupati Indramayu, Salman Al-Farisi, yang dinilai telah menimbulkan kegaduhan di Bumi Wiralodra.

Kali ini, giliran Forum Peduli Indramayu (FPI) yang menyatakan akan menggelar aksi unjuk rasa menanggapi pernyataan Stafsus Salman yang dinilai bernada rasis. Selain itu, FPI juga menyoroti pengangkatan Salman sebagai Staf Khusus Bupati Indramayu, Lucky Hakim, yang dianggap telah melampaui kewenangan dan tugas pokok serta fungsinya.

“Keresahan yang menyebar di dunia maya maupun di kantor-kantor pemerintahan dipicu oleh kebijakan pengangkatan staf khusus oleh orang nomor satu di Kabupaten Indramayu. Kewenangan seorang stafsus dinilai telah melebihi tugas pokok dan fungsinya, ditambah dengan ucapan yang menimbulkan kegaduhan bagi wong reang yang merasa memiliki Bumi Wiralodra. Oleh karena itu, kami yang tergabung dalam FPI akan melakukan aksi damai terkait terkoyaknya Bumi Wiralodra oleh Stafsus Bupati, Salman,” tegas Koordinator Umum (Kordum) aksi, Masdi.

Masdi menambahkan, dalam unjuk rasa yang direncanakan tersebut diperkirakan sekitar 1.200 massa akan turun ke jalan. Aksi dijadwalkan berlangsung pada Rabu (28/1) mendatang.

“Titik kumpul berada di area Sport Center, selanjutnya massa akan bergerak menuju satu titik, yakni Kantor Pendopo Indramayu, tempat Stafsus Salman berkantor,” jelas Masdi.

Untuk menertibkan jalannya aksi, Masdi mengklaim pihaknya telah menunjuk enam koordinator lapangan (korlap) sebagai penanggung jawab di lokasi unjuk rasa. Keenam korlap tersebut adalah Aktivis Cemplon, Ratno dari GMPAR, Trisno dari Lucky Center, Waradis dari LSI, serta Aktivis Nurbaeti dan Nanik dari RC.

“Kami juga sudah melayangkan surat pemberitahuan aksi kepada Kapolres Indramayu. Intinya, kami serius akan turun ke jalan atas keresahan dan kegaduhan yang dirasakan warga Indramayu akibat ulah Salman. Bumi Wiralodra sudah terkoyak dan patut kita lawan sampai tuntas,” ujar Masdi.

Sebelumnya, unjuk rasa juga dilakukan oleh gabungan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) yang tergabung dalam Aliansi Wong Dermayu Bersatu (AWDB). Aksi tersebut digelar di depan Pendopo Bupati Indramayu pada Senin (19/1).

Namun, demo yang menyoroti dugaan pernyataan bernada rasis yang dilontarkan Salman itu berakhir kekecewaan. Pasalnya, Salman tidak menemui para pendemo, yang kemudian dinilai sebagai sikap tidak kooperatif.

Aksi yang diikuti 11 LSM dan Ormas, di antaranya BPPKB, Penjara, Manggala, WN 88, Pemuda Pancasila, IMI, XTC, PASKAS, Kiansantang, GIBAS, dan Brigade 08, berakhir tanpa kepastian. Massa menuntut agar Stafsus Salman dipecat dan angkat kaki dari Bumi Wiralodra karena ucapannya dinilai menyakiti dan melukai perasaan masyarakat Indramayu.

Aksi tersebut merupakan respons atas pernyataan Salman, Staf Khusus Bupati Indramayu, yang viral di media sosial dan dinilai provokatif serta bermuatan rasis sehingga memicu kegaduhan di tengah masyarakat. Dalam aksi itu, massa juga mendesak agar Salman dipulangkan ke daerah asalnya, Madura.

“Ini soal harga diri, bukan persoalan pribadi. Menjaga kondusivitas daerah sangat penting. Kami ingin Indramayu tetap aman, damai, serta mampu menjaga perbedaan suku, ras, dan agama,” tegas Koordinator Umum AWDB, Asmawi Day.

Sebelumnya diberitakan, Stafsus Bupati Indramayu, Salman, menjadi sorotan publik menyusul pernyataannya yang dinilai bernada rasis. Pernyataan tersebut disampaikan saat pertemuan dengan dua pegawai outsourcing Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Indramayu yang diberhentikan tanpa alasan jelas.

Pertemuan berlangsung di Pendopo Indramayu pada malam hari, 10 Januari 2026. Dalam pertemuan tersebut, Salman didampingi asisten pribadi Bupati Indramayu, Lucky Hakim, bernama Mansur.

Dua tenaga outsourcing yang diberhentikan tersebut adalah Wanginah dan Komar. Keduanya mendatangi pendopo untuk mengklarifikasi pemecatan yang mereka alami, setelah mendengar kabar bahwa pemberhentian tersebut diduga atas permintaan Mansur dan Salman.

“Kami datang untuk meminta penjelasan karena kabar yang beredar menyebutkan Mansur dan Salman menekan pimpinan kami di Diskominfo agar memberhentikan kami,” ungkap Wanginah, Jumat (16/1).

Situasi pertemuan kemudian memanas ketika Salman dan Mansur membantah tudingan tersebut. Namun, di luar dugaan, Salman justru melontarkan pernyataan yang dinilai bernada rasis di hadapan Wanginah dan Komar.

“Saya Salman, berdarah Madura, bertulang putih, dan bermata putih. Saya tidak akan pernah takut kepada siapa pun. Saya tidak akan patuh pada perintah siapa pun di Indramayu ini kecuali Bupati Indramayu Lucky Hakim, karena saya orangnya Lucky Hakim, bukan orangnya siapa pun,” ujar Wanginah menirukan pernyataan Salman.

Hingga berita ini diturunkan, Staf Khusus Bupati Indramayu, Salman, belum memberikan tanggapan resmi. Upaya klarifikasi yang dilakukan Intijayakoran.com melalui pesan WhatsApp pada Sabtu (17/1) juga belum mendapat jawaban. (Cho)

www.domainesia.com
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *