INDRAMAYU, Intijayakoran.com – Setelah video dan berita terkait Nadia Permatasari (23), seorang Pekerja Migran Indonesia asal Desa Bojong Slawi, Kabupaten Indramayu viral, pihak Disnaker (Dinas Tenaga Kerja) Kabupaten Indramayu langsung respon cepat.

Melalui Kepala Bidang Penempatan Tenaga Kerja (Penta) Luar Negeri, Asep Kurniawan mengimbau agar masyarakat Indramayu jangan mudah terbujuk janji manis ajakan kerja di luar negeri, apalagi di Negara China.

Menurut Asep, selama ini tidak ada job resmi untuk lowongan kerja di Negara China.

“Itu si Nadia saya pastikan prosesnya ilegal. Tidak ada job kerja di Negara China,” jelas Asep didampingi Sudiryo, Kamis (10/9/2026) di kantornya.

Dari hasil investigasinya, Tenaga Migran Indonesia yang bernama Nadia itu diduga terjadi pernikahan siri atau yang kerap disebut pernikahan pesanan.

“Kami dari Pemerintah Kabupaten Indramayu akan segera berkoordinasi dengan pihak pemerintah pusat untuk menyelamatkan nasib Nadia. Kami upayakan agar segera bisa diproses pemulangan ke Indonesia,” tegas lelaki cekatan yang selalu peduli nasib tenaga kerja di luar negeri yang biasa dipanggil Pak Diryo.

Diberitakan sebelumnya, Mimpi Buruk Nadia di China: Niat Bantu Orang Tua Berujung Penyekapan dan Eksploitasi

Niat tulus Nadia Permatasari (23), warga asal Desa Bojong Slawi, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat untuk melunasi utang orang tuanya berubah menjadi tragedi kemanusiaan yang memilukan.

Sejak April 2026, ia diduga menjadi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dengan modus pernikahan pesanan, dan kini dilaporkan hidup dalam ketakutan mendalam setelah dikurung di sebuah area ladang terpencil di Distrik Yingdong, Kota Fuyang, Provinsi Anhui, China.

Mereka tanpa memegang paspor maupun uang sepeser pun. Keluhan nasib migran ini viral setelah rekaman videonya beredar, termasuk diterima Redaksi Intijayakoran.com.

Bencana yang menimpa Nadia ini bermula pada Maret 2025 ketika ia didekati oleh seorang perekrut lokal berinisial Ibu UT yang menawarkan pekerjaan di luar negeri.

Karena usianya saat itu belum mencukupi syarat legal untuk bekerja formal, ia kemudian dibujuk untuk menerima lamaran pernikahan siri dengan seorang pria berkebangsaan China bernama Xukai.

Iming-iming yang diberikan cukup menggiurkan bagi Nadia yang ingin membantu keluarganya, yakni mahar sebesar Rp100 juta serta jaminan uang bulanan bagi orang tuanya di kampung halaman.

Proses keberangkatan Nadia tergolong sangat kilat dan penuh kejanggalan di bawah kendali seorang agen bernama Ibu GD tanpa melalui prosedur penempatan resmi yang melindungi pekerja migran.

Gadis asal Indramayu ini akhirnya diberangkatkan seorang diri tanpa pendampingan dari Bandara Soekarno-Hatta pada tanggal 8 Februari 2026 menuju daratan Tiongkok.

Namun, janji manis kemakmuran seketika sirna begitu Nadia menginjakkan kaki di rumah suami ‘pesanannya’ di Provinsi Anhui.

Setibanya di sana, seluruh akses komunikasinya diputus secara paksa melalui penyitaan ponsel, sementara kebebasannya direnggut lewat pengisolasian ketat dari dunia luar.

Di tempat tertutup tersebut, ia tidak hanya dipaksa untuk bekerja berat di ladang, tetapi juga diduga kerap menerima berbagai bentuk kekerasan secara psikis maupun seksual dari sang suami.

Menghadapi penderitaan yang luar biasa berat di negeri orang, Nadia melalui berbagai saluran informasi secara darurat memohon pertolongan kepada pemerintah Republik Indonesia. Ia secara khusus meminta bantuan langsung kepada Presiden Prabowo Subianto melalui Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Tenaga Kerja agar segera dievakuasi dan dipulangkan kembali ke tanah air demi menyelamatkan nyawanya dari cengkeraman para pelaku sindikat perdagangan manusia internasional.

“Saya di sini (China) sudah ga kuat menghadapi perlakuan suami saya. Mau pulang di Indonesia suruh ganti biaya mahar, tapi saya sudah tidak punya apa-apa karena uang mahar digunakan untuk berobat kakak saya, yang sekarang sudah meninggal dunia. Tolong bantu saya bisa pulang pak Gubernur KDM, pak Dewan Hilal,” kata Nadia dalam video yang beredar. (Cho/Red)

www.domainesia.com
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *