INDRAMAYU, Intijayakoran.com-
Ketua Gerakan Rakyat Indramayu (GRI), Muhamad Solihin memastikan bahwa nasib pekerja asal Indramayu yang terlantar di Provinsi Papua dipastikan dalam kondisi aman.
Kepastian ini setelah dirinya menghubungi salah satu pekerja, Catu Wijaya dalam kontak terakhir lewat WhatsApp, Rabu (8/4/2026) pukul 14.01 WIB.
“Alhamdulillah mereka baik-baik saja. Sekarang lagi diproses untuk kepulangannya. Semua ongkos tiket akan dibantu pihak Baznas dan Disnaker Indramayu, termasuk nanti penjemputan di Bandara Soeta Jakarta. Dua lembaga itu sudah menjanjikan membiayai tiket pulang Indramayu,” jelas Solihin di Kantor Disnaker Indramayu, Rabu (8/4/2026).
Menurutnya, saat sekarang dirinya terus melakukan komunikasi dan koordinasi dengan pihak Disnaker melalui Bidang Penempatan Kerja dan 8 pekerja di Papua, termasuk membahas teknis pemulangan pekerja kuli bangunan tersebut. “Mudah-mudahan bisa secepatnya pulang,” jelas Solihin.
Kepala Bidang (Kabid) Penempatan Kerja Disnaker Kabupaten Indramayu, Asep Kurniawan menjelaskan, sesuai instruksi pimpinan, dirinya sudah melakukan upaya komunikasi dengan para pekerja di Papua dan keluarganya di Indramayu secara terus menerus sejak videonya viral.
“Kita sudah siap memulangkan 8 pekerja yang terlantar di Papua. Baznas sudah menyiapkan anggaran untuk semua biaya tiket berkisar Rp46,4 juta dengan perincian per tiket pesawat Rp5,8 juta,” kata Asep.
Selanjutnya secara teknis, pihaknya sedang memastikan waktu pemulangan, sehubungan yang disana (para pekerja) masih ada yang ditunggu terkait upah kerja yang belum dibayar.
“Kita bersama tim sudah menyiapkan waktu penjemputan di Bandara Soeta Jakarta. Nanti teman-teman Pers dikabari jika sudah siap melakukan penjemputan,” tandasnya.
Diberitakan sebelumnya, delapan pekerja asal Indramayu yang terlantar di Sermayam, Merauke, Papua Selatan saat ini memprihatinkan dan terancam kelaparan.
Lewat video yang viral di Medsos, Catu Wijaya, pekerja asal Desa Rajasinga, Kecamatan Terisi mengeluh terkait nasib dirinya dan teman-temanya yang terlantar di Papua.
Catu Wijaya menceritakan, kedelapan pekerja tersebut bekerja sebagai kuli bangunan pada proyek pembangunan barak TNI di Yonif TP 818/YUBOI.
Awalnya mereka berharap mendapat penghasilan layak, karena dijanjikan upah besar dan full lembur, namun justru sebaliknya dirinya mengalami penderitaan.
Catu melirih dalam pengakuannya tidak menerima upah sesuai perjanjian dan ditinggal begitu saja oleh mandor yang membawa mereka ke Papua. Bahkan pola kerja yang dijanjikan full lembur dan bayaran besar tidak terbukti.
“Boro-boro lembur, bayaran kerja saja di cicil. Tolong pak Bupati Lucky, Pak Gubernur Dedi Mulyadi dan Anggota DPR-RI bisa membantu memulangkan kami yang terlantar di Papua,” kata Catu dalam video yang beredar viral sejak Senin (6/4/2026).
Berdasarkan Catatan GRI, kedelapan pekerja yang terlantar tersebut adalah Catu Wijaya, Mulyadi, Yogi Setiawan dan Rizki Gunawan (Warga Desa Rajasinga, Kecamatan Terisi); Ahmad Malik Ibrahim (Warga Desa Jatimulya), Jayadi (Warga Desa Cikawung), Carwadi (Warga Desa Plosokerep, Kecamatan Terisi) dan Rasim (Warga Blok Sarmita, Desa Puntang, Kecamatan Losarang). (Cho)





