INDRAMAYU, Intijayakoran.com—

Sehari setelah insiden tragis yang menimpa tujuh mahasiswa Politeknik Negeri Indramayu (Polindra), suasana di Bendungan Bangkir, Desa Rambatan Kulon, Kecamatan Lohbener, justru tampak ramai oleh warga yang datang berkerumun.

Banyak di antara mereka bukan hanya sekadar ingin melihat proses pencarian dua korban yang belum ditemukan, tapi juga terdorong rasa penasaran terhadap bendungan yang selama ini dikenal angker.

Soleh (38), warga setempat, mengaku terkejut dengan banyaknya pengunjung yang berdatangan sejak pagi. “Padahal baru kemarin kejadian, tapi hari ini ramai banget orang datang ke sini. Ada yang nonton petugas nyelam, ada juga yang cuma mau lihat tempatnya katanya angker,” ujarnya saat ditemui di lokasi, Minggu (9/11).

Menurut Soleh, Bendungan Bangkir sudah lama dikenal warga sekitar sebagai tempat yang “berbahaya” dan sarat cerita mistis.

Beberapa warga percaya, di bawah pusaran air bendungan itu terdapat semacam “lorong gaib” yang bisa menyeret siapa pun yang terlalu dekat.

“Sudah banyak yang meninggal di sini, bukan cuma mahasiswa itu aja. Katanya sih ada penunggunya,” tambahnya pelan.

Cerita tentang keangkeran bendungan ini sudah turun-temurun. Banyak warga meyakini bahwa pada waktu-waktu tertentu, terutama menjelang magrib, arus air di Bendung Bangkir berubah tidak biasa, seolah hidup dan berputar sendiri.

Endang (36), warga Desa Terusan, Kecamatan Sindang, menyebut bahwa orang tua mereka dulu selalu mengingatkan agar tidak bermain atau mandi di sekitar bendungan.

“Dulu dibilangnya ada makhluk air yang suka ‘narik’ orang. Sekarang kejadian lagi, jadi warga makin percaya,” katanya.

Meski demikian, suasana pasca-tragedi justru berubah menjadi seperti objek wisata dadakan. Puluhan kendaraan roda dua dan mobil pribadi terlihat parkir di sekitar lokasi. Beberapa warga terlihat berfoto di tepi bendungan, sementara anak-anak berlarian di sekitar area tempat kejadian perkara.

Fenomena ini sempat membuat petugas gabungan yang tengah melakukan pencarian harus menegur beberapa warga agar tidak terlalu dekat dengan bibir sungai.

Bagi sebagian warga, kunjungan ke Bendung Bangkir pasca-kejadian bukan hanya karena rasa ingin tahu, tapi juga bentuk simpati terhadap korban. Namun di sisi lain, ada pula yang datang karena dorongan rasa mistis dan ingin “membuktikan” cerita angker yang selama ini beredar.

“Ada juga yang bawa bunga, sesajen, katanya buat doa atau penolak bala,” ujar Soleh.

Hingga Sabtu sore, petugas Basarnas dan tim SAR gabungan masih terus menyisir area bendungan untuk mencari dua mahasiswa yang hilang. Pencarian diperluas hingga ke muara sungai, sementara arus deras dan kedalaman air menjadi tantangan utama bagi tim di lapangan.

Meski tragedi ini menyisakan duka mendalam, warga berharap Bendung Bangkir bisa segera diamankan dan diberi pembatas atau pengumuman larangan yang lebih jelas.

“Kalau tidak dikasih rambu dan larangan tegas, nanti dikwatirkan ada korban lagi. Angker atau tidak, yang pasti bendungan ini berbahaya,”tegas Endang.

Pantauan Intijayakoran.com di lapangan, di seketar Bendungan Karet Bangkir terdapat puluhan tenda dadakan orang berjualan jajanan makanan ringan dan minuman. (Hambar Setiawan)

www.domainesia.com
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *