INDRAMAYU, Intijayakoran.com —

Langkah cepat diambil Kepala Gudang Bulog Pekandangan, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Eri Luxmantara. Menyusul kondisi bangunan gudang di Desa Lombang, Kecamatan Juntinyuat, yang jebol dan menyebabkan beras tercecer, ia segera memindahkan stok beras Bulog ke gudang induk Pekandangan.

“Sesuai instruksi dan petunjuk Bu Kacab, beras Bulog sebanyak 600 ton di Gudang Lombang kami pindahkan ke gudang induk Pekandangan. Hingga Senin (1/9), sebanyak 200 ton sudah berhasil diamankan,” ujar Kepala Gudang Induk Pekandangan, Ari Luxmantara, di kantornya.

Ia menjelaskan, pemindahan ini dilakukan demi keamanan barang milik pemerintah. Gudang di Lombang, yang disewa dari pihak swasta, ambruk dan dinilai tak layak menyimpan beras. Selain memindahkan beras, pihaknya juga meminta bantuan pengamanan dari Polsek dan Koramil Juntinyuat serta Polres Indramayu. Tim satuan pengamanan dari gudang induk juga ditugaskan berjaga di lokasi.

Data yang dihimpun menunjukkan, stok beras Bulog di gudang Lombang mencapai 600 ton. Beras tersebut berasal dari hasil serapan gabah petani Kecamatan Juntinyuat yang diolah oleh mitra Bulog dan disimpan sejak lima bulan lalu di gudang milik pengusaha penggilingan beras, Dedi Mulya.

“Tahun ini kami diperbolehkan menggunakan sistem filial, menyewa gudang milik mitra, karena gudang Bulog penuh. Tujuannya agar seluruh gabah petani terserap,” jelas Eri.

Sisa 400 ton beras Bulog di Gudang Lombang ditargetkan selesai dipindahkan dalam waktu sepekan ke gudang induk Pekandangan dan Luwiegede. Eri mengungkapkan, bangunan gudang sudah dua kali roboh. Minggu lalu, bagian pintu yang rusak; seminggu kemudian menyusul pagar dan tembok yang jebol. “Sejak awal, gedung itu kami nilai layak untuk penyimpanan,” ujarnya.

Eri menambahkan, pihaknya sudah berusaha maksimal menyerap gabah petani sesuai instruksi Presiden, termasuk membuka sistem filial. Ia menekankan pentingnya menjaga kesejahteraan petani dan menjauhi praktik tengkulak. “Jangan hanya karena alasan biaya dan tempat, kita berhenti menyerap gabah. Sampai Agustus 2025, kami sudah serap 120 ribu ton beras sesuai target. Meski terpenuhi, kami tetap lanjut demi petani,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Cabang Bulog Indramayu, Sri Wahyuni, menegaskan bahwa beras di gudang Lombang adalah cadangan pemerintah hasil serapan dari petani Indramayu. Ia membantah isu penimbunan. “Saya tegaskan kepada Bapak Bupati Lucky Hakim, gudang ini milik Bulog dan disewa swasta untuk penyimpanan hasil giling petani. Ini bukan penimbunan, melainkan beras Bulog,” ujar Sri, Minggu (31/8) malam.

Sebelumnya, video viral menunjukkan puluhan ton beras Bulog tercecer akibat gudang roboh. Gudang yang dikelola pengusaha beras berinisial D di Desa Lombang, sekitar 20 kilometer timur laut Kota Indramayu, jebol pada Jumat (29/8). Unggahan akun TikTok @naalbt memicu kegaduhan, bahkan meminta Bupati Lucky Hakim turun tangan menyelidiki dugaan penimbunan.

Setelah ditelusuri, gudang tersebut menyimpan lebih dari 500 ton beras Bulog. Beras dalam karung tersimpan di lahan pribadi milik D yang disewa dari oknum anggota legislatif berinisial HD. Lokasinya berada persis di samping kantor BRI. Setelah gudang jebol, ratusan karung beras isi 50 kilogram tercecer ke sawah dan tercampur lumpur, sehingga tak layak konsumsi.

Anggota LSM Forum Bina Lingkungan Kawasan Industri L2T, Alex Warsidi, menyebut bahwa beras yang disimpan di gudang milik pribadi tersebut mencapai 500 hingga 600 ton. Karena kelebihan muatan, bangunan akhirnya roboh. “Sekitar 15–20 ton beras tercecer ke sawah dan tidak layak konsumsi. Beras ini sudah tertimbun di sini selama berbulan-bulan,” ungkapnya.

Alex juga menyoroti dugaan bahwa gudang disewa seharga Rp200 juta per tahun dan beras Bulog di dalamnya akan dikomersialkan. “Modusnya, beras dioplos lalu dijual ke pasar Jakarta. Saya menduga, ini sudah berlangsung puluhan tahun. Gudang jadi rapuh, lalu jebol. Ini seperti karma—ada kutu beras dan rayap yang merusak,” katanya.

Ia mendesak pemerintah dan aparat penegak hukum segera menyelidiki kasus ini. “Beras yang sudah kotor jangan dijemur dan digunakan kembali. Saya lihat masih dijemur. Ini harus diawasi agar tidak terjadi penyalahgunaan,” tegas Alex.

Dihubungi terpisah, pengusaha Dedi membenarkan bahwa gudang miliknya menyimpan 500 ton beras Bulog. Dari jumlah itu, sekitar 7 ton rusak karena gudang jebol. “Yang rusak nanti diganti. Kalau Bulog butuh, tetap tersedia 500 ton,” ujar Dedi.

Ia mengaku menyimpan beras Bulog tanpa biaya sewa, karena seluruh gudang Bulog penuh. Gudang itu disewa dari HD. “Mau diberitakan atau diviralkan, saya tidak terpengaruh,” ucap Dedi. (Cho)

www.domainesia.com
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *