JAKARTA, Intijayakoran.com – Lagi ramai di kalangan santri, isu gerakan beraroma politik pihak tertentu berkeliling mendatangi pengurus wilayah dan pengurus cabang NU untuk mengumpulkan dukungan bagi calon Rais Am PBNU.
Mengetahui hal itu, sejumlah aktivis muda NU yang tergabung dalam Aliansi Santri Gus Dur mengungkapkan keprihatinan mendalam. Ketua Aliansi Santri Gus Dur Muhammad Sholihin menyatakan, warga NU sudah terluka batinnya atas adanya konflik elit PBNU. Sekarang warga semakin terluka batin mengetahui jabatan Rais Am diperebutkan sampai membentuk tim sukses untuk persiapan Muktamar.
“Warga NU merasa malu dan resah, mengapa ada konflik di elit PBNU, dan ada gerakan politik ambisi menjabat Rais Am,” tutur Sholihin di Jakarta, Senin (25/5/2026).
Sholihin mengingatkan, sejak NU didirikan, tidak pernah ada orang berambisi menjadi Rais Am. Bahkan setiap ada yang dipilih sebagai Rais Am, selalu menolak karena merasa tidak mampu mengemban amanah besar tersebut.
“Mari kita baca sejarah NU, dulu Mbah Wahab ditunjuk paksa menjadi Rais Am menggantikan KH Hasyim Asy’ari yang telah wafat. Lalu Kiai Bisri Syamsuri dipaksa jadi Rais Am setelah Mbah Wahab wafat,” ungkap alumni pesantren yang didirikan KH Abdul Wahab Hasbullah, yakni Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas Jombang ini.
Dia melanjutkan, ketika Muktamar NU digelar di Ponpes Krapyak, Yogyakarta, sang tuan rumah yaitu Kiai Ali Maksum, bersikeras tidak mau dicalonkan menjadi Rais Am. Bahkan Kiai Ali tidak menghadiri sidang pleno pemilihan. Dan demikian seterusnya berlaku di setiap pemilihan Rais Am PBNU. Selalu rebutan menolak, hingga akhirnya ada satu orang yang dipaksa ‘mengalah’ mau menerima amanah.
“Ada deklarasi calon Rais Am. Lalu poster bergambar calon Rais Am beredar di media sosial, bahkan dipromosikan, hal itu sungguh menurunkan marwah ulama,” ujar Sholihin geram campur sedih.
Rais Am Haruslah Orang yang ‘Sempurna’
Ketua Aliansi Santri Gus Dur Muhammad Sholihin menegaskan, Rais Am adalah pemegang otoritas tertinggi di kepengurusan NU, hal mana membedakan dengan struktur kepengurusan di organisasi kemasyarakatan lainnya.
Ia mengatakan, Rais Am hanya patut ditempati oleh ulama yang sempurna dari segi keilmuan, keteladanan akhlak, dan wawasan kebangsaan.
“Rais Am harus diisi orang yang ‘sempurna’ dalam keilmuan, keteladanan, maupun wawasan kebangsaan,” tutur Sholihin yang pernah kuliah di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini.
Untuk memilih sosok ‘sempurna’ itu, kata dia, harus diserahkan kepada para kiai sepuh yang masyhur zuhudnya, masyhur wira’inya. Sehingga jiwa tulus mereka bisa memilih siapa yang patut menjadi pemimpin tertinggi Nahdlatul Ulama. Dan itu sudah ada di dalam sistem pemilihan melalui Ahlul Halli wal Aqdi.
Dia mengajak, seluruh pihak di NU membiarkan Muktamar berjalan sebagaimana tradisi yang telah lama berjalan, yaitu calon Rais Am baru diketahui ketika Muktamar telah sampai pada tahap akhir, yaitu pemilihan calon pengurus PBNU.
“Biarlah berjalan sesuai tradisi, pemilihan Rais Am diserahkan kepada para kiai sepuh di NU yang lebih tahu dan memahami kebutuhan dan kepentingan Nahdlatul Ulama untuk menjaga peran besar NU bagi agama, bangsa, dan negara,” pungkas dia.
Ketua Tanfidziyah Harus Adu Gagasan
Sholihin meneruskan, Ketua Tanfidziyah PBNU tidak harus ulama, tidak harus kiai yang berkualifikasi sangat tinggi. Karena Tanfidziyah adalah pelaksana alias eksekutor, maka yang perlu ditonjolkan adalah kemampuannya bekerja dan mampu adu gagasan.
Sholihin menyatakan, setiap calon Ketua Umum PBNU harus menyampaikan visi dan misi, dan siap beradu gagasan untuk dinilai oleh seluruh pengurus wilayah dan pengurus cabang NU di forum Muktamar.
Maka menurut tokoh NU asal Indramayu ini, calon Ketua Umum PBNU harus sosialisasi untuk bisa diterima. Dan jika dia terpilih, mampu membawa maslahat untuk umat, bangsa, dan bahkan panggung global peradaban dunia. (Cho)





