CIREBON, Intijayakoran.com – Bos Dedi Jaya Group, KH. Muhadi Setiabudi, yang juga warga NU, ikut andil dalam memberikan materi pemberdayaan ekonomi dalam “Dialog Kebangsaan Kader dan Warga NU Cirebon Raya” di Pendopo Paseban Gunung Jati, Cirebon, awal pekan ini.

Dialog kebangsaan yang dilaksanakan oleh Aliansi Santri Gus Dur diawali dengan santunan anak yatim dhuafa dan penghargaan kepada santri berprestasi.

Pengusaha sukses di bidang jasa transportasi atau perhubungan darat yang mengelola kendaraan, H. Muhadi juga ikut memberikan santunan tambahan secara langsung mendampingi Kang Sholihin, Ketua Aliansi Gus Dur.

Dalam pemaparannya, Dr. (HC) Muhadi Setiabudi mengajak warga NU membangun kemandirian ekonomi dan semangat berwirausaha.

Pengusaha asal NU yang juga sekaligus pendiri Universitas Muhadi Setiabudi, Dr. (HC) Muhadi Setiabudi mengajak warga Nahdlatul Ulama (NU) untuk membangun kemandirian ekonomi, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta menjadi pribadi yang produktif dan bermanfaat bagi masyarakat.

Pesan tersebut disampaikannya dalam Dialog Kebangsaan Kader dan Warga NU Cirebon Raya bertema, “Menghidupkan Kembali Spirit Kepemimpinan Sunan Gunung Jati dan Ideologi Gus Dur Menyongsong Kepemimpinan yang Memakmurkan Warga NU di Tengah Arus Pragmatisme.”

Muhadi menegaskan bahwa Islam mendorong umatnya menjadi pribadi yang kuat, baik dalam aspek keimanan, ilmu pengetahuan, ekonomi, maupun pengabdian kepada masyarakat.

“Islam mengajarkan agar umatnya menjadi kuat. Kuat ibadahnya, kuat ilmunya, kuat ekonominya, dan mampu memberikan manfaat bagi banyak orang. Jangan menjadi pribadi yang lemah, tetapi jadilah muslim yang produktif dan mandiri,” ujarnya.

Muhadi mengisahkan perjalanan hidupnya yang dimulai dari keluarga sederhana di Brebes. Selanjutnya, pengusaha yang sempat mengenyam pendidikan pesantren di Babakan Ciwaringin Cirebon, semasa kecil, ia membantu orang tuanya bekerja di sawah, mulai dari mencangkul, mengangkut rumput, hingga mengambil air.

Menurutnya, titik balik kehidupannya terjadi ketika ia merenungkan firman Allah SWT bahwa Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum mereka berusaha mengubah keadaan dirinya sendiri.

Berbekal keyakinan tersebut, ia merantau dan sempat bekerja sebagai kondektur bus. Namun, setelah mengalami beberapa musibah kecelakaan, ia bersama istrinya memutuskan untuk beralih menjadi wirausaha.

Pada tahun 1981, Muhadi memberanikan diri meminjam modal sebesar Rp50 ribu dari bank untuk memulai usaha perdagangan bambu. Dari usaha kecil itulah perlahan ia mengembangkan bisnisnya hingga terus bertumbuh.

“Semua dimulai dari nol. Modal kecil itu kami kelola bersama istri dengan penuh kesungguhan. Alhamdulillah, usaha itu berkembang sedikit demi sedikit hingga sekarang menjadi puluhan unit perusahaan,” tuturnya.

Kini, menurut Muhadi, kelompok usahanya telah berkembang menjadi 71 unit perusahaan dengan sejumlah unit usaha baru yang masih dalam tahap pembangunan.

Muhadi menegaskan bahwa keberhasilan tidak pernah diperoleh secara instan. Menurutnya, setiap prestasi selalu lahir dari kerja keras, disiplin, dan ketekunan.

“Kita semua ingin hidup bahagia, masa tua sejahtera, dan akhir kehidupan husnul khatimah. Tetapi semua itu membutuhkan proses. Tidak ada prestasi tanpa kerja keras,” kata pengusaha oto bus meyakinkan.

Ia mengajak generasi muda NU untuk menjadi pribadi yang produktif, kreatif, dan inovatif sehingga mampu menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat.

“Pemerintah mendorong masyarakat menjadi pencipta lapangan kerja, bukan sekadar pencari kerja. Saya berharap akan lahir banyak pengusaha baru dari kalangan warga Nahdlatul Ulama,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Muhadi membagikan prinsip hidup yang selama ini menjadi pedoman dalam membangun usahanya, yang ia sebut sebagai *”10 K”*, di antaranya keberanian, kemandirian, keahlian, kejujuran, kesederhanaan, kerendahan hati, dan komitmen untuk terus berkembang.

Ia juga menekankan pentingnya dukungan keluarga, khususnya peran seorang istri, dalam perjalanan meraih kesuksesan.

“Saya bisa sampai pada titik ini karena memiliki istri yang selalu mendukung, mendoakan, dan menemani perjuangan sejak awal,” ungkapnya.

Muhadi mengaku memilih menjalani kehidupan yang disiplin dan bekerja keras. Baginya, kesuksesan lahir dari pengorbanan, bukan dari kemewahan atau kenyamanan semata.

Muhadi menjelaskan bahwa bisnis yang ia bangun kini bergerak di berbagai bidang, mulai dari transportasi, perdagangan, perbankan, pendidikan, kesehatan, hingga energi.

Ia menyebut sejumlah usaha yang dirintisnya berkembang dari pengalaman hidup yang sederhana, mulai dari berdagang es, minyak tanah keliling, hingga akhirnya memiliki pabrik es, SPBU, rumah sakit, bank, serta perguruan tinggi.

Saat ini, kelompok usahanya juga mengelola beberapa rumah sakit dan tengah mempersiapkan pengembangan fakultas kedokteran di universitas yang didirikannya.

Menurutnya, keberhasilan tersebut bukan semata karena latar belakang pendidikan formal, tetapi karena kemauan untuk terus belajar, bekerja keras, dan tidak berhenti mencari ilmu.

“Saya mungkin bukan lulusan ekonomi, tetapi saya terus belajar ilmu ekonomi. Saya juga banyak belajar dari para ulama dan kiai karena ilmu adalah bekal utama dalam menjalani kehidupan,” katanya.

Dalam membangun usaha, Muhadi menekankan empat prinsip yang selalu ia pegang teguh, yakni menjaga kepercayaan, melunasi utang, menunaikan amanah, berkata jujur, dan menepati janji.

Menurutnya, integritas merupakan modal utama bagi seseorang dalam membangun kepercayaan, baik dalam kehidupan bermasyarakat maupun dunia usaha.

Selain berbagi pengalaman bisnis, Muhadi juga mengungkapkan komitmennya dalam kegiatan sosial, terutama memberikan perhatian kepada anak-anak yatim.

Ia mengaku rutin mengadakan santunan, mengajak anak-anak yatim mengikuti kegiatan rekreasi, hingga memberikan berbagai bentuk bantuan sebagai bagian dari rasa syukur atas nikmat yang diterimanya.

“Rasulullah SAW juga tumbuh sebagai seorang yatim. Karena itu, mari kita muliakan anak-anak yatim. Jangan sampai mereka kehilangan perhatian, pendidikan, maupun kasih sayang,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Muhadi juga menyampaikan apresiasi kepada panitia penyelenggara Dialog Kebangsaan dengan mengundang panitia untuk beristirahat di vila miliknya sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi mereka dalam menyelenggarakan kegiatan.

Menutup paparannya, Muhadi menegaskan bahwa kesuksesan dunia harus selalu diiringi dengan kedekatan kepada Allah SWT.

Ia mengajak peserta untuk memperbaiki kualitas ibadah, memperbanyak silaturahmi, membaca shalawat, berdzikir, berdoa, bertawakal, serta membiasakan shalat tahajud sebagai ikhtiar spiritual dalam menjemput rezeki dan keberkahan hidup.

“Sukses bukan hanya tentang kekayaan, tetapi juga keberkahan. Dekatlah kepada Allah, perbanyak ibadah, dan jangan pernah berhenti berusaha. Semoga kita semua diberi kesehatan, umur yang berkah, serta dapat terus memberikan manfaat bagi sesama,” tutupnya. (Cho/Red/Rilis)

www.domainesia.com
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *