INDRAMAYU, Intijayakoran.com – Rumah sederhana di Blok Mekarsari, Desa Mekarjaya, Kecamatan Gantar, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, menjadi tempat Kardono (44) mengembangkan keterampilan yang kini menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. Dari tempat itu, ia menekuni pembuatan kertas daluang dengan bekal pengalaman dan kemauan untuk terus belajar.

Kardono bukanlah seseorang yang menempuh pendidikan tinggi. Pria kelahiran 21 November 1982 itu hanya menyelesaikan pendidikan hingga sekolah dasar (SD). Setelah itu, pendidikannya tidak berlanjut ke jenjang berikutnya.

Namun, terhentinya pendidikan formal tidak membuat Kardono berhenti mencari pengetahuan. Ia justru menemukan ruang belajar melalui keterampilan yang ditekuni secara perlahan dan mandiri.

Saat ditemui wartawan, Rabu (30/9/2026), Kardono menceritakan bahwa dirinya mulai menekuni pembuatan kertas daluang sekitar 2020.

Tidak ada pendidikan khusus yang diikutinya untuk mempelajari keterampilan tersebut. Kardono belajar secara otodidak dengan mencoba, mengulang, mengamati hasil, kemudian memperbaiki kekurangan dalam setiap proses.

“Mulai belajar membuat kertas daluang itu sekitar tahun 2020. Saya belajar sendiri, banyak mencoba dan dari pengalaman. Dari situ sedikit demi sedikit saya mulai memahami cara membuatnya,” ujar Kardono.

Tahun demi tahun berlalu. Keterampilan yang awalnya dipelajari secara mandiri itu kemudian berkembang menjadi karya yang mulai dikenal masyarakat.

Pada 2023, Kardono mulai memasarkan kertas daluang hasil buatannya. Pesanan pun datang dari sejumlah daerah, di antaranya Jombang, Bandung, dan Tangerang.

Keterampilannya tidak hanya menghasilkan kertas tradisional, tetapi juga membawanya berinteraksi dengan dunia pendidikan. Kardono pernah mendapat kesempatan berbagi pengetahuan mengenai kertas daluang di Universitas Gadjah Mada (UGM), UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan Universitas Indonesia (UI).

Kesempatan serupa kembali datang pada 6 Oktober 2026. Kardono mendapat undangan dari salah satu fakultas di Universitas Indonesia, Depok, untuk memberikan pembelajaran mengenai pembuatan kertas daluang kepada mahasiswa.

Bagi Kardono, kesempatan tersebut menjadi pengalaman tersendiri. Ia yang belajar dari rumah dengan cara sederhana kini mendapat ruang untuk berbagi keterampilan kepada mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan tinggi.

Selain membuat kertas daluang, Kardono juga mempelajari pembuatan daun lontar dan menerjemahkan aksara Jawa. Kemampuan tersebut kembali diperolehnya melalui proses belajar secara mandiri.

Menurut Kardono, pendidikan formal tetap memiliki peran penting. Namun, keterbatasan dalam menempuh pendidikan tidak seharusnya menjadi alasan untuk berhenti mengembangkan diri.

“Sekolah itu penting. Tetapi kalau tidak punya kesempatan melanjutkan sekolah, jangan merasa tidak bisa apa-apa. Kita tetap bisa belajar dari pengalaman, dari orang lain, dan dari keterampilan yang kita tekuni,” katanya.

Perjalanan Kardono menjadi cerita tentang seseorang yang memilih terus bergerak ketika pendidikan formalnya harus berhenti. Ia menemukan ruang belajar melalui pengalaman dan menjadikannya keterampilan yang terus diasah.

Kini, dari Blok Mekarsari, Kardono tidak hanya membuat kertas daluang untuk memenuhi pesanan. Ia juga membagikan pengetahuan yang dimilikinya kepada orang lain.

Kertas daluang yang dihasilkannya seakan menjadi bagian dari perjalanan hidup Kardono. Setiap lembar membawa cerita tentang ketekunan, proses belajar, dan keyakinan bahwa kesempatan untuk berkembang tetap terbuka selama seseorang mau mencoba. (Ade Nur)

www.domainesia.com
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *