INDRAMAYU, Intijayakoran.com– Sejumlah aktivis muda Nahdlatul Ulama (NU) yang tergabung dalam Aliansi Santri Gus Dur menyuarakan perlunya organisasi terbesar di Indonesia itu kembali menjadi pionir dalam pembelaan terhadap rakyat. Mereka menilai NU harus kembali ke jalur populis dengan mengedepankan kearifan tradisi yang telah menjadi ciri khas sejak kelahirannya.
Aliansi juga menilai kepemimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) saat ini belum maksimal dalam mendorong ruang berpikir kritis bagi kader NU untuk mengawal isu kebangsaan, sosial, dan kemasyarakatan.
Ketua Aliansi Santri Gus Dur, Muhamad Sholihin, menyampaikan bahwa para kiai dan umat merasa resah karena NU di era kepemimpinan PBNU sekarang terasa menjauh dari kearifan tradisional yang telah mapan sejak satu abad lalu. Menurut Sholihin, PBNU juga dirasakan menjauh dari agenda advokasi rakyat, sehingga warga NU di tingkat akar rumput tidak merasakan manfaat yang nyata dari berorganisasi.
“Warga nahdliyin saat ini dilanda keresahan. PBNU tidak menampilkan NU sebagai pionir advokasi rakyat, dan tidak tampak arif dalam tradisinya sendiri,” tuturnya di Jakarta, 22 Mei 2026.
Aktivis NU asal Indramayu yang pernah nyantri di Pondok Pesantren Tambak Beras Jombang ini mengajak semua pihak di NU untuk bermuhasabah atau evaluasi, dengan semangat refleksi menyambut Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei.
“Mari kita melakukan evaluasi dan refleksi dalam rangka Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei untuk jam’iyyah NU kita tercinta,” ujarnya.
Alumnus Pondok Pesantren Mualimin Babakan Ciwaringin Cirebon ini menjelaskan bahwa di antara keresahan atau ketidakpuasan umat adalah terseretnya PBNU dalam pusaran korupsi. Salah satu contohnya, Bendahara Umum PBNU, H. Mardani Maming, ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan tuduhan korupsi.
Meskipun tindak pidana korupsi tersebut dilakukan Mardani sebelum ia menjabat sebagai bendahara umum PBNU, masuknya nama dia di jajaran penting organisasi membawa dampak demoralisasi yang serius.
“Peristiwa itu menjadi bukti ketua umum PBNU tidak cermat memilih orang untuk menjadi bendahara organisasinya ulama,” terangnya.
Selanjutnya, kata Sholihin, keresahan juga muncul akibat kisruh internal PBNU yang hingga terjadi pemecatan dan dualisme klaim kepengurusan.
“Ketidakharmonisan para ulama di tingkat elit PBNU menjadikan umat resah dan terbelah,” ucapnya dengan nada sedih.
Sholihin menerangkan bahwa kepemimpinan Ketua Umum PBNU terasa lemah di rumahnya sendiri dan tidak mampu mewujudkan slogannya sendiri, yaitu “Menghidupkan Gus Dur”. Ia mencontohkan pelaksanaan konferensi cabang dan wilayah yang dinilainya tidak sesuai aturan perkumpulan dan tidak demokratis.
Sholihin melanjutkan, dengan melihat kondisi PBNU saat ini—termasuk kisruh Surat Keputusan (SK) Pimpinan Wilayah NU (PWNU) dan Pimpinan Cabang NU (PCNU) yang tak kunjung selesai—maka diperlukan reformasi di PBNU.
“Kami melihat ada titik lemah dan kisruh di PBNU. Perlu reformasi, PBNU,” ucapnya.
Ia menyampaikan bahwa kader NU yang dinilai mampu “ndandani” (membenahi) kondisi PBNU saat ini adalah Abdul Muhaimin Iskandar atau akrab disapa Gus Muhaimin. Menurutnya, Gus Muhaimin adalah aktivis NU yang sejak muda berkecimpung di organisasi tersebut. Ia pernah memimpin Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan berhasil memimpin Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang merupakan partai berbasis NU.
“Gus Muhaimin lahir dari aktivis pergerakan. Dia bisa menyelamatkan PKB menjadi pemenang ke-4 Pemilu 2024. Dan sudah malang melintang di DPR maupun pemerintahan,” ungkap Sholihin.
Aliansi Santri Gus Dur, lanjutnya, menilai sosok Gus Muhaimin paling tepat untuk menakhodai PBNU. Menurut mereka, NU akan kembali ke jati dirinya sesuai marwah ulama, sekaligus tampil cemerlang di era kemajuan teknologi dan persaingan global jika dipimpin oleh Gus Muhaimin.
“Aliansi Santri Gus Dur melihat bahwa Gus Muhaimin mampu melampaui jamannya dan mampu bertahan di setiap dinamika politik. Dia sosok multi talenta yang telah menjalani perjalanan panjang dengan konsisten, tanpa kenal menyerah. Dia mampu menjadi nahkoda penyelamat atas kondisi PBNU saat ini,” pungkas Sholihin. (Cho)





