INDRAMAYU, Intijayakoran.com-

Dunia maya digegerkan dengan viralnya kritik puisi yang disampaikan, M. Sholihin yang ditujukan ke pemerintahan Lucky Hakim-Syaefudin.

Sejak hari Rabu (13/8) hingga puncaknya Minggu, 17 Agustus 2025, M. Sholihin yang merupakan aktivis 99 dan sempat menjadi calon Bupati Indramayu pada Pilkada tahun 2021, mengejutkan jagat maya dengan puisi-puisi kritisnya yang sudah beredar bebas, salah satunya di unggah laman facebook Ridwan Indrawan yang di publikasikan, Minggu (17/8).

Setelah puisi ‘Jeritan Rakyat Dermayu’ (Cukup Sepisan Bae) dan ‘Pemimpin Buaya’ yang sudah tersebar, tepat pada tanggal 17 Agustus 2025, Sholihin juga kembali membuat kejutan dengan kritik puisi yang berjudul ‘Pemimpin Peteng Rubet’.

Lewat puisi yang dibacakan di depan RS Pantura MA Sentot Patrol Indramayu, pria yang bernama lengkap Muhamad Sholihin kembali menusuk tajam lewat puisinya yang viral di media sosial berjudul ‘Pemimpin Peteng Rubet Indramayu’.

Ia seolah hendak berkata seperti penyair Sutardji Cholsum Bachri menulis lirik lirik kegelisahan dalam puisi “Tanah Air Mata’ yang isinya mengkritik pemerintah.

Dalam puisi ‘Pemimpin Buaya’, Menurut Tokoh Masyarakat Indramayu, Adzlan Dai, dalam tafsirnya, Ia merobek robek dinding dinding tebal kekuasaan yang palsu, yang ia tuding dalam puisi yang ia tulis berjudul ‘Pemimpin Buaya’ yang menggambarkan licik, piawai berpura pura, tapi merusak jiwa jiwa kolektif warga tak berdosa.

Dalam sindiran puisi pemimpin buaya, antara lain isinya, “Cukup sekali Memilih pemimpin buaya. Kalau ada maunya sok pura pura, tapi aslinya pemimpin rakus dan berbahaya. Wahai rakyat Indramayu, semuanya harus hati hati dan jangan terpedaya. Stop pemimpin buaya, Pemimpin sok pura pura, padahal licik dan berbahaya. Stop stop pemimpin buaya, Demi rakyat dermayu sejahtera”.

Setelah itu, M. Sholihin kembali berteriak nyaris dalam kesendirian jalan ‘peteng rubet’. Ia berteriak dalam puisinya, isinya antara lain.

Indramayu peteng rubet pemimpinnya. Indramayu peteng rubet kepemimpinannya.

Adzlan Dai yang dihubungi Intijayakoran.com, Senin (18/8) mengatakan, diksi peteng rubet adalah selimut kepalsuan. Diksi peteng rubet adalah struktur kejahiliyahan, dan diksi peteng rubet adalah jalan pemimpin yang berbohong sejak dalam pikiran.

Menurutnya, dari sejumlah puisi yang sudah di wartakan ke publik, ada pesan moral untuk warga Indramayu, kita jangan terlena dan dibodohi oleh penguasa.

M. Sholihin kepada Intijayakoran.com menegaskan, karya puisi ini karena melihat kegelisahan di daerahnya yang dinilai amburadul, korup dan memainkan secara brutal dan tersistematis adanya kebijakan KKN (Korupsi Kolusi dan Nepotisme).

Menurutnya, kolusi ini sudah mengarah ke setiap sudut kebijakan penguasa sekarang termasuk di dalamnya dugaan pengangkatan jabatan PNS di lingkungan Pemkab Indramayu yang transaksional, termasuk pekerjaan proyek Pemkab Indramayu yang dibiayai APBD tahun 2025 yang dinilai tidak sehat dan berbau KKN.

“Saya setuju dengan tafsir kang Adzlan Dai. Masihkah kalian mendiamkannya. KKN sudah sistematis dari segala penjuru, mari kita bergerak dan lawan kedzoliman penguasa,” tegas Sholihin.

Saat dimintai komentarnya, Bupati Indramayu, Lucky Hakim yang dihubungi Intijayakoran.com lewat aplikasi Whatsapp, Senin (18/8) sore pukul 17.37 WIB tidak merespon. (Cho)

www.domainesia.com
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *