CIREBON, Intijayakoran.com – Pengasuh Pondok Pesantren Mu’allimin Mu’allimat Babakan Ciwaringin, Cirebon, Abuya KH. Zam-zami Amin mengajak seluruh warga Nahdlatul Ulama (NU) untuk kembali meneguhkan arah perjuangan organisasi sesuai cita-cita para muassis. Menurutnya, NU harus menjadi organisasi yang mandiri, berdaya secara ekonomi, dan konsisten memperjuangkan kemaslahatan umat.
Ajakan tersebut disampaikan dalam Dialog Kebangsaan Kader dan Warga NU Cirebon Raya bertajuk “Menghidupkan Kembali Spirit Kepemimpinan Sunan Gunung Jati dan Ideologi Gus Dur Menyongsong Kepemimpinan yang Memakmurkan Warga NU di Tengah Arus Pragmatisme” di Pendopo Gunung Jati, Cirebon, Senin (13/7/2027). Kegiatan diawali dengan santunan bagi anak yatim dan dhuafa serta pemberian penghargaan kepada dua santri berprestasi.
Dalam pemaparannya, Abuya Zam-zami menegaskan perjalanan NU harus tetap berpijak pada nilai-nilai yang diwariskan para pendiri organisasi dan ulama Nusantara. “NU harus berjalan sesuai dengan cita-cita para muassis. Organisasi ini didirikan bukan hanya untuk menjaga ajaran Ahlussunnah wal Jamaah, tetapi juga untuk menghadirkan kemaslahatan bagi umat, bangsa, dan negara,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah merupakan sosok ulama sekaligus pemimpin yang mampu memadukan kepemimpinan spiritual dan pemerintahan. Salah satu pesan yang dinilai tetap relevan hingga kini adalah wasiat “Ingsun Titip Fakir Miskin” yang mengandung ajakan untuk memperkuat kepedulian sosial dan kemandirian ekonomi umat.
Menurut Abuya Zam-zami, wasiat tersebut bukan hanya mengajarkan pentingnya membantu kaum lemah, tetapi juga mendorong umat Islam agar menjadi pribadi yang kuat secara ekonomi. “Jangan hanya bercita-cita menjadi mustahik, tetapi jadilah muzakki yang mampu membantu orang lain,” katanya.
Ia menambahkan, warga NU harus memiliki semangat menjadi pribadi yang mandiri, produktif, dan mampu menjaga marwah organisasi. “Memberi lebih mulia daripada meminta. NU harus menjadi organisasi yang kuat secara ekonomi sehingga mampu mengayomi masyarakat tanpa bergantung kepada pihak lain,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Abuya Zam-zami juga mengajak masyarakat Cirebon mengoptimalkan potensi sumber daya alam sebagai modal membangun kesejahteraan. Menurutnya, pesan Sunan Gunung Jati tentang pentingnya menguasai daratan dan lautan merupakan ajakan untuk mengelola potensi alam secara bijaksana demi kemakmuran masyarakat.
“Allah telah memberikan potensi yang luar biasa kepada negeri ini. Tugas kita adalah mengelolanya dengan ilmu, teknologi, dan amanah sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat luas,” ujarnya. Ia menegaskan kekayaan alam harus menjadi kekuatan ekonomi umat, bukan sekadar dinikmati pihak lain.
Abuya Zam-zami juga menilai tantangan yang masih dihadapi warga NU adalah kurangnya rasa percaya diri dalam membangun kemandirian. Padahal, dengan jumlah jamaah yang besar, jaringan pesantren yang luas, dan tradisi keilmuan yang kuat, NU memiliki modal besar untuk berkembang.
“Kita tidak boleh merasa kecil. Allah telah menjadikan manusia sebagai khalifah di bumi. Karena itu, warga NU harus percaya diri, mandiri, dan berani membangun kekuatan ekonomi sendiri,” katanya. Ia juga membagikan pengalaman mengembangkan berbagai usaha sebagai bukti bahwa kemandirian ekonomi dapat dibangun melalui kerja keras dan keyakinan.
Selain menyoroti aspek ekonomi, Abuya Zam-zami menjelaskan bahwa shalat mengandung nilai-nilai manajemen dan kepemimpinan. Menurutnya, shalat mengajarkan kedisiplinan, kebersihan, serta etika dalam memimpin dan menyampaikan kritik. “Perbedaan pendapat harus disampaikan dengan adab. Kritik diperlukan, tetapi harus dibarengi solusi dan dilakukan dengan cara yang baik agar tidak menimbulkan perpecahan,” ujarnya.
Menutup pemaparannya, Abuya Zam-zami menegaskan bahwa NU harus memperkuat kemandirian ekonomi melalui pengembangan sektor riil, seperti pertanian, peternakan, perikanan, industri sandang, dan usaha produktif lainnya. “Ketahanan pangan harus menjadi perhatian utama. Warga NU harus mampu mengembangkan sektor pertanian, peternakan, perikanan, industri pakaian, hingga berbagai usaha produktif lainnya agar umat menjadi mandiri,” tuturnya, seraya mengajak seluruh kader NU menghidupkan kembali semangat perjuangan Wali Songo melalui penguatan pendidikan, ekonomi, dan kepedulian sosial. (Cho/red/rillis)





