INDRAMAYU, Intijayakoran.com-
Dari 14 orang yang meninggal dunia akibat peristiwa longsor pertambangan galian C Gunung Kuda Desa Cipanas Kecamatan Dukuhpuntang Kabupaten Cirebon Jum’at (30/5) dua diantaranya warga Desa Srengseng Kecamatan Krangkeng Kabupaten Indramayu.
Berdasarkan data yang dihimpun hingga pukul 19.00WIB, dari 14 korban meninggal dunia teridentifikasi, dua di antaranya Jamaludin (50) dan Wastoni (25), keduanya merupakan warga Desa Srengseng Kecamatan Krangkeng Kabupaten Indramayu.
Diketahui kedua korban ini merupakan supir dan kernet Dumtruk yang dapat pesanan matrial batu untuk orang lain, dan keduanya juga masih sepupu dan rumahnya juga bersebelahan dengan pemesan material.
Sejak sore hari tadi, warga sudah berdatangan ke rumah duka untuk melakukan takziah. Hingga menjelang larut malam pukul 22.00 WIB, suasana rumah duka masih ramai oleh warga yang bertakziah. Mereka antusias menunggu sampai jenazah kedua korban di antar ke rumah duka.
Kuwu Srengseng, Tohir mengatakan, belum diketahui secara pasti pukul berapa jenazah akan tiba di rumah duka. Namun, ia memastikan jenazah kedua korban akan diantar pada malam hari ini.

“Info terakhir tadi sudah beres, dimandikan, dan lain-lain. Cuma informasinya ada pak Gubernur hendak meninjau ke lokasi di sana, mungkin setelahnya baru di antar ke rumah duka,dan Alhamdulillah jenazah sampai di rumah duka pukul 01.00 WIB,”ujar dia.
Di sisi lain, Tohir turut membenarkan kedua korban adalah warga desanya. Tohir sendiri bahkan masih memiliki hubungan saudara dengan kedua korban.
Ditambahkan Tohir, keluarga sangat terpukul mendengar kabar tersebut dan kondisi keluarga saat ini bahkan antara percaya dan tidak percaya kedua korban sudah meninggal jadi korban longsornya gunung kuda. Apalagi, disampaikan Tohir, kedua korban merupakan sosok yang baik. “Tidak hanya di mata keluarga, keduanya juga dikenal baik di mata para tetangga,” jelasnya.
Oleh karenanya, saat mendengar kabar duka tersebut, banyak warga yang langsung berdatangan untuk bertakziah. Disisi lain, diceritakan Tohir, kabar duka tersebut pertama kali diketahui keluarga dari rekan sesama sopir truk seperti korban. Rekan korban itu datang ke rumah untuk menyampaikan kabar duka secara langsung pada siang hari tadi.
“Kami dikasih kabar sekitar pukul 11.00 WIB, kondisi keluarga tentu saat itu sangat terpukul. Apalagi korban ini saling bertetangga dan juga merupakan kakak beradik. Jadi kami dari keluarga antara percaya dan tidak percaya,” ujar dia.
Awak media beserta warga yang sejak pukul 19:00 WIB berada dirumah duka menanti kedatangan kedua jenazah, ternyata hingga pukul 24:00 belum juga tiba, tepat pukul 01 dini hari kedua jenazah tiba dan diturunkan dari ambulance. Isak tangis pecah bukan hanya dari kedua keluarga korban, namun beberapa warga turut sedih dan menangis terutama ibu ibu yang sedari sore menunggu kedatangan jenazah.
Menurut sumber saat dikonfirmasi awak media mengatakan, “Kejadian diperkirakan sekitar jam 10:20 WIB pak, karena pukul 9:30 Jamal maupun Wastoni masih ada komunikasi dengan pihak keluarga, bahkan Eastoni sendiri sempat selfi dengan istrinya mengingat pengantin baru jadi apa apa ia selfi. Nah untuk Jamal biasanya kalau hari Jumat gak berangkat, tapi katanya pemesan batu minta agar dikirim hari Jumat akhirnya Jamal berangkat mengambil batu, tidak tahunya kejadian seperti ini. kabar yang saya dapatkan dari pak kuwu tadi sore jenazah sudah ada dirumah sakit Arjawinangun, kemungkinan sampai disini sekitar pukul 24:00 WIB karena katanya mobil ambulance gantian pak,” jelas kerabatnya.
Menurut keterangan dari salah satu perwakilan pihak korban saat diwawancarai mengatakan, “Firasat buruk jelang kematian Jamal dialami oleh Aisyah (Ais) anak ke empat almarhum yang sedang kuliah di Yogjakarta, katanya hari itu Ais perasaannya gak enak, kemudian badan juga terasa lemes terus, tiba tiba ingin pulang tak berselang lama Ais melihat berita dari YouTube ada kejadian longsor yang merenggut 11 korban tewas, sontak perasaan gelisah bercampur ketakutan dibenak Ais kian menjadi, tak berselang lama Ais menerima kabar jika bapaknya dan pamannya ikut menjadi korban longsor.”
Adapun penguburan rencananya menunggu kedatangan Ais anak perempuan almarhum dari Yogjakarta, katanya dari sananya sih berangkat jam 8 pagi menggunakan kereta api. (A.K 59 )





