“SAYA Salman, berdarah Madura, bertulang putih, dan bermata putih. Saya tidak akan pernah takut kepada siapa pun. Saya tidak akan patuh pada perintah siapa pun di Indramayu ini kecuali Bupati Indramayu Lucky Hakim, karena saya orangnya Lucky Hakim, bukan orangnya siapa pun”
Bahasa adalah sebuah sistem simbol yang digunakan untuk berkomunikasi, namun makna kata-kata tidaklah tetap dan dapat berubah tergantung pada konteksnya.
Dalam situasi tertentu, kata-kata yang sama dapat memiliki makna yang berbeda-beda, tergantung pada nada, intonasi, dan konteks sosial.
Menyangkut pernyataan Salman menjadi pro kontra dan memantik respon masyarakat luas, baik pengamat sosial, aktivis, mahasiswa dan lainnya. Ada yang memandang negatif, nyinyir dan juga sebagian positif atau tidak ada masalah dengan ucapan Stafsus Bupati Indramayu, Salman Al-Farisi.
Berkaca pada uraian diatas, kata “saya tidak akan pernah takut kepada siapapun”, itu jelas pertanda kesombongan dan mengandung tantangan dengan kata, “TIDAK AKAN PERNAH TAKUT KEPADA SIAPAPUN”.
Sedangkan, kata “Saya Salman, Berdarah Madura”, itu kata yang sudah mengarah dan bernada Rasis karena menyebut nama suku, dalam percakapan dengan lawan bicara dalam hal ini, mantan tenaga outsorcing korban PHK di Diskiminfo Indramayu, Wanginah yang merupakan warga “asli” Indramayu.
Dikutip dari tulisan Iman Teguh Santoso, S.T., M.T, dalam filsafat bahasa, konsep kontekstualitas bahasa ini dikenal sebagai “kontekstualitas semantik”. Kontekstualitas semantik mengacu pada bagaimana makna kata-kata dapat berubah tergantung pada konteksnya, termasuk konteks sosial, budaya, dan situasional.
Contoh yaitu orang yang mengucapkan, menulis kata tidak baik tapi dalam konteks bergurau, pasti berbeda dengan orang mengucapkan, menulis kata yang tidak baik pada waktu marah, merupakan sebuah ilustrasi yang baik tentang kontekstualitas semantik.
Dalam konteks bergurau, kata-kata tidak baik dapat diartikan sebagai sebuah lelucon atau sindiran yang tidak serius, sedangkan dalam konteks marah, kata-kata tidak baik dapat diartikan sebagai sebuah ancaman atau serangan.
Dalam konsep ini dikenal sebagai “teori konteks” yang dikembangkan oleh Ludwig Wittgenstein. Menurut Wittgenstein, makna kata-kata tidaklah tetap, tetapi tergantung pada konteksnya. Dalam konteks yang berbeda, kata-kata yang sama dapat memiliki makna yang berbeda-beda.
Implikasi Filosofis
Kontekstualitas bahasa memiliki implikasi filosofis yang lebih luas. Pertama, kontekstualitas bahasa menekankan bahwa makna kata-kata tidaklah tetap, tetapi tergantung pada konteksnya. Kedua, kontekstualitas bahasa menekankan pentingnya memahami konteks dalam berkomunikasi, karena konteks dapat mempengaruhi makna kata-kata. Ketiga, kontekstualitas bahasa menekankan bahwa bahasa bukanlah sebuah sistem simbol yang statis, tetapi sebuah sistem yang dinamis dan dapat berubah tergantung pada konteksnya.
Dalam konteks yang lebih luas, kontekstualitas bahasa dapat membantu kita memahami bagaimana bahasa dapat digunakan untuk mempengaruhi orang lain, baik secara positif maupun negatif. Dengan memahami kontekstualitas bahasa, kita dapat lebih efektif dalam berkomunikasi dan menghindari kesalahpahaman.
Di akhir tulisan, berhati-hatilah berbicara, ada pribahasa yang terkenal sesuai moto Intijayakoran.com, “Mulutmu Harimaumu”. Peribahasa “Mulutmu harimaumu” artinya perkataan yang diucapkan bisa menjadi sumber bahaya atau celaka bagi diri sendiri jika tidak dipikirkan dengan matang, seperti harimau yang bisa menerkam dan membahayakan jika dibiarkan mengaum liar, sehingga kita harus berpikir sebelum berbicara agar tidak menimbulkan masalah.
Ini adalah nasihat untuk selalu menjaga ucapan dan berkomunikasi dengan bijak. “Keselamatan manusia tergantung pada kemampuannya menjaga lisan.” (HR. Bukhari).
(Penulis adalah wartawan aktif di Indramayu yang juga Pemred Intijayakoran.com dan Ketua Forum Perjuangan Wartawan Indramayu/FPWI).
