INDRAMAYU, Intijayakoran.com – Seorang bupati yang nekat menyusuri aliran sungai yang dipenuhi sampah, mengangkat plastik, popok sekali pakai, hingga limbah rumah tangga dengan tangannya sendiri. Itulah yang dilakukan Bupati Indramayu, Lucky Hakim, di Sungai Pamengkang, Desa Krangkeng, Jumat (15/5/2026). Tampak heroik. Tapi benarkah ini murni aksi nyata, atau sekadar produksi konten untuk mengerek popularitas?

Pertanyaan itu bukan tanpa alasan. Dalam video yang beredar luas di media sosial, aksi Lucky yang khusyuk mengangkat tumpukan sampah itu ternyata turut “ditonton” oleh sejumlah pejabat daerah, termasuk Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, H. Caridin yang tidak ikut turun ke sungai. Kehadiran para pejabat di lokasi justru mengundang tanya: apakah ini momen gotong royong tulus atau lebih mirip scene sinetron yang diproduksi rapi?

Komentar pedas datang dari warga setempat, Taryam (43). Dengan nada nyinyir khas rakyat kecil yang tak mudah dibius, ia berkata, “Gawe konten. Kun Pa Ketua wajarlah artis sinetron mah.” Sebuah sindiran yang menusuk, mengingat latar belakang Bupati Lucky yang memang dikenal sebagai aktor dan figur publik sebelum terjun ke dunia politik.

Kadisdikbud Kabupaten Indramayu, H. Caridin tampak menonton Bupati Lucky Hakim yang turun bersih-bersih di Sungai wilayah Krangkeng
Kadisdikbud Kabupaten Indramayu, H. Caridin tampak menonton Bupati Lucky Hakim yang turun bersih-bersih di Sungai wilayah Krangkeng

Memang, tidak ada yang salah dengan seorang pemimpin turun langsung ke lapangan. Bahkan itu patut diapresiasi. Namun, yang menjadi persoalan adalah substansi di balik kemasan visual yang begitu apik. Ketika aksi bersih-bersih itu difoto, direkam, dan disebarluaskan dengan narasi heroik, pertanyaan kritis yang tak bisa dielakkan adalah: apakah ini sekadar one-day show yang akan lenyap setelah kamera dimatikan? Atau ada sistem dan kebijakan berkelanjutan yang sungguh-sungguh dijalankan?

Perlu dicatat, masalah sampah di Sungai Pamengkang bukanlah isu baru. Warga setempat sudah bertahun-tahun mengeluhkan tumpukan sampah yang menyumbat aliran, menyebabkan bau tak sedap, dan mengancam banjir setiap musim hujan. Jika persoalan struktural ini hanya diselesaikan dengan aksi turun sungai sesekali yang dikemas dalam konten viral, maka akar masalahnya—yaitu perilaku masyarakat yang masih membuang sampah ke sungai dan lemahnya sistem pengelolaan sampah—justru akan terus terabaikan.

Namun, Ada yang Layak Diapresiasi

Di tengah kritik yang mengarah kepada potensi konten politik semata, aksi Bupati Lucky Hakim tetap menyisakan secercah cahaya yang tak bisa dipungkiri.

Banyak warga justru terenyuh dan memberikan dukungan penuh. Akun Facebook Mimi Arum menulis, “Wow hebat bnget pemimpin idaman kita, hati2 pak bupati awas ada pecahan kaca. Semoga untuk warga sekitar bisa membuka hati untuk menjaga kebersihan.”

Akun Jasun Well memuji, “Bupati rasa rakyat, peduli lingkungan irigasi yang penuh sampah. Lanjutkan.” Sementara Rohid Dien berkomentar, “Yaa Allah bupatinya sampe turun, semua harus turun.”

Yang lebih menarik, komentar dari Nda Faiz justru menyoroti inti masalah dengan bahasa yang lugu namun dalam: “Pa bupati ya Allah moga sehat selalu. Kon pada mudun kuh wg sing buangi sampah padu.” Artinya, ia berharap warga yang biasa membuang sampah sembarangan ikut turun tangan.

Dari sinilah letak keseimbangan yang perlu digarisbawahi: Aksi nyata seorang pemimpin adalah penting, tetapi bukan pengganti kebijakan sistemik. Turun ke sungai boleh jadi menggerakkan hati, tetapi tanpa perbaikan Tempat Pembuangan Akhir (TPA), tanpa penguatan bank sampah di tingkat desa, tanpa sanksi tegas bagi warga yang membuang sampah ke sungai, maka aksi itu akan seperti menimba air dengan keranjang bambu.

Pemerintah Kabupaten Indramayu memang berkomitmen untuk menggelar agenda serupa secara berkala. Itu kabar baik. Namun, rakyat tidak butuh pemimpin yang hanya pandai membersihkan sampah di depan kamera. Rakyat butuh pemimpin yang mampu menghilangkan sampah dari hulu ke hilir, bahkan sebelum kamera dinyalakan.

Semoga aksi turun ke sungai ini bukan akhir dari sebuah cerita konten, melainkan awal dari revolusi kebersihan yang sesungguhnya. Karena pada akhirnya, warga Krangkeng tak butuh tontonan. Mereka butuh solusi. (Cho)

www.domainesia.com
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *