MAJALENGKA, intijayakoran.com – Pengerasan halaman Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 2 Ligung menuai sorotan tajam. Bukan karena hasilnya mulus dan kokoh, melainkan karena lapisan hotmix yang baru beberapa bulan diaplikasikan justru sudah ditumbuhi rumput. Warga sekitar dan orang tua murid menduga pekerjaan tersebut menggunakan bahan hotmix bekas atau skrep kromeling, bukan aspal hotmix asli.
Ketika wartawan Intijaya melakukan investigasi di lokasi terpantau kondisi memprihatinkan tersebut. Lapisan hotmix di halaman depan sekolah yang semestinya menghadirkan kesan rapi dan bersih, kini terlihat kasar, tidak rata, bahkan di beberapa titik sudah mulai melupas. Kondisi paling parah terlihat di area lapangan basket yang seharusnya menjadi kebanggaan siswa untuk berolahraga.
“Saya lihat sendiri, hotmixnya asal-asalan. Bahannya kayak aspal bekas, makanya wajar kalau sekarang sudah ditumbuhi rumput. Padahal baru beberapa bulan dikerjakan. Ini bukan hotmix asli,” ujar seorang warga yang enggan disebutkan namanya, Senin (13/4).

Para siswa pun tak kuasa menahan kekecewaan. Mereka hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kondisi halaman sekolah yang bukannya makin indah, malah terlihat kumuh. “Pantasan saja rumput tumbuh, soalnya aspalnya bukan hotmix sungguhan,” ucap salah seorang siswa dengan nada kecewa.
Kepala Sekolah SMP 2 Ligung, H. Eman, saat dihubungi melalui sambungan telepon seluler, justru memberikan respons singkat dan cenderung menghindar. “Abang aja telpon saya,” ucap H. Eman tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut terkait kualitas pekerjaan maupun sumber dana pengerasan halaman sekolah tersebut.
Sementara itu, awak media yang mencoba menggali informasi dari bagian Tata Usaha (TU) dan sejumlah guru di sekolah tersebut mendapat jawaban seragam. Mereka mengaku tidak mengetahui apa pun tentang pekerjaan hotmix tersebut. “Maaf, saya tidak tahu masalah hotmix itu,” ujar salah satu staf TU dengan nada tertutup.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada kejelasan apakah proyek tersebut berasal dari dana BOS, sumbangan orang tua murid, atau sumber lainnya. Masyarakat mendesak adanya investigasi lebih lanjut karena dugaan proyek ini hanya menghamburkan uang tanpa hasil yang memadai. (Max R)





