INDRAMAYU, Intijayakoran.com-
Protes jalan rusak yang tak kunjung diperbaiki, sejumlah warga Kabupaten Indramayu melakukan kegiatan ekstrem dengan menanam pohon pisang dan pepaya ditengah badan jalan.
Selain untuk memberi tanda bahaya jalan rusak kepada pengguna jalan, langkah warga ini sebagai bentuk protes kepada Pemerintah Kabupaten Indramayu dan dinas terkait.
Pemandangan tak biasa ini terjadi di Desa Telukagung Kecamatan Indramayu dan Desa Gadingan serta Sudikampiran Kecamatan Sliyeg.
Di desa Telukagung warga blok balai desa RT 05 RW 02 terpaksa menanam pohon pisang di tengah badan jalan, Sabtu malam (28/3/2026).
“Ini jalur lintas alternatif yang biasa dilewati warga yang bertujuan ke daerah Lohbener atau Jatibarang dan Indramayu kota lewat jalan Bendungan Bangkir. Kalau tidak segera diberesin, bisa mengancam keselamatan pengguna jalan, apalagi di sini jalannya sempit,” terang Taruna (28) warga setempat.

Hal serupa dilakukan warga Desa Gadingan dan Sudikampiran Kecamatan Sliyeg. Kondisi jalan kabupaten ruas Gadingan–Sudikampiran sepanjang 1 kilometer menuai sorotan tajam dari masyarakat.
Kerusakan parah yang membentang hampir satu kilometer di Blok Tanjung Desa Gadingan tersebut kini viral di media sosial dan memicu gelombang keluhan warga.
Pantauan di lapangan, jalan tersebut dipenuhi lubang dan mirip kubangan kerbau di sejumlah titik. Permukaan licin, berlumpur, serta badan jalan jika musim penghujan digenangi air dan menutupi lubang yang bisa mengancam keselamatan pengguna jalan.
Kondisi ini dinilai sangat membahayakan, khususnya bagi pengendara sepeda motor yang setiap hari melintas di jalur tersebut.
Asep Irawan Warga Blok Tanjung Gadingan dan Udin mengungkapkan kekecewaannya terhadap lambannya penanganan dari pemerintah daerah.
Ia menyebut, kerusakan jalan itu bukan hal baru dan sudah berlangsung lama tanpa perbaikan yang paten.
“Ini sudah lama rusak, bahkan bisa dibilang sudah parah dengan titik lubang dimana-mana. Kedalaman kerusakan bahkan ada yang mencapai 30 centimeter. Tapi sampai sekarang belum ada tindakan nyata untuk diperbaiki,” jelas Asep.

Asep juga menyinggung janji dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Indramayu yang sebelumnya menyatakan perbaikan akan dilakukan pada awal tahun 2026.
Namun hingga akhir Maret, realisasi tersebut belum terlihat. Menurutnya, kondisi jalan yang rusak parah sangat berpotensi memicu kecelakaan lalu lintas, terlebih jalur tersebut merupakan akses utama warga serta dilalui pelajar setiap hari saat berangkat dan pulang sekolah.
“Lubangnya dalam banget, mas. Jika musim penghujan tertutup air, jadi tidak kelihatan. Ini sangat berbahaya bisa menambah jumlah kecelakaan, apalagi untuk anak-anak sekolah,” ujarnya.
Sebagai bentuk protes sekaligus peringatan bagi pengguna jalan, dirinya bersama warga setempat mengambil langkah tegas dengan menanam pohon pisang dan pepaya di tengah lubang jalan.
Aksi tersebut dilakukan agar pengendara lebih waspada saat melintas di jalur rawan tersebut.
“Kami terpaksa tanam pohon supaya orang tahu ada lubang. Ini juga bentuk kekecewaan kami karena belum ada perbaikan,” tambahnya.
Warga pun mendesak adanya perhatian serius dari pemerintah, mulai dari Bupati Indramayu, Gubernur Jawa Barat, hingga pemerintah pusat, termasuk dinas terkait dalam hal ini DPUPR agar segera turun tangan menangani kerusakan jalan tersebut.
“Kami hanya ingin jalan ini diperbaiki. Kasihan masyarakat yang setiap hari melintas di sini,” keluh Udin
Kabid Bina Marga DPUPR Kabupaten Indramayu, Wimbanu kepada Intijayakoran.com mengatakan, perbaikan jalan rusak akan segera di mulai pada kisaran Mei 2026.
“Kita masih menyiapkan untuk pelaksanaan tender. Perkiraan bulan Mei perbaikan dan pembangunan jalan sudah mulai,” jelas Wimbanu di gedung DPRD Indramayu, kemarin.
Masyarakat masih menunggu realisasi janji perbaikan dari pihak terkait. Jika kondisi ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin risiko kecelakaan akan semakin meningkat dan aktivitas warga semakin terganggu. (Cho)





