CIREBON, Intijayakoran.com –
Sejumlah keluarga pasien mengeluhkan kurang maksimalnya pelayanan di Rumah Sakit Daerah (RSD) Gunung Jati Cirebon, Jawa Barat.
Salah satu keluhan utama datang dari pasien di ruang ICU RSD Gunung Jati. Disini, pasien yang mayoritas dari masyarakat tidak mampu di wilayah III Cirebon mengeluhkan tidak maksimalnya pelayanan medis untuk pasien BPJS PBI.
Keluarga pasien TS (56) mengeluhkan tindakan medis ke istrinya Y (42) yang dirawat hampir satu minggu, tapi tidak dilakukan tindakan operasi.
Padahal tindakan operasi sangat dibutuhkan untuk membuang cairan di sekitar paru-paru dan jantung yang menyebabkan istrinya mengeluh sesak napas.
Pasien asal Kecamatan Patrol, Kabupaten Indramayu ini adalah pasien rujukan dari RS Mitra Plumbon Patrol. Hingga satu minggu berjalan dirawat di ICU, belum ada tanda-tanda dilakukan tindakan operasi.
“Istri saya sakitnya paru-paru dan penyakit bagian dalam, kalau dari pihak medis disana (RS Mitra Plumbon Patrol) dirujuk kesini tuh mestinya dioperasi membuang cairan di sekitar paru-paru dan jantung, pas disini tindakannya cuma dikasih obat doang,” keluh TS pada awak media, Jumat (27/2/2026).
Yang lebih membuat kaget dan sedih, dirinya malah dapat info dari tim medis, bahwa istrinya harus di rujuk ke RS di Bandung atau Jakarta untuk dilakukan operasi dengan alasan peralatan medis kurang lengkap.

“Saya orang miskin ga punya apa-apa, kalau disini ga dilakukan operasi sampai Sabtu besok, saya bawa pulang saja ke rumah, kasihan istri saya. Ada temen tetangga ruangan, dari Bandung malah di bawa kesini,” kata TS (51), suami Y yamg merupakan peserta BPJS Kesehatan PBI.
Penjagaan Tanpa Satpam
Keluhan juga datang dari keluarga pasien asal Kecamatan Kapetakan, DS (56). Ia merasa dipimpong saat mengambil KTP sebagai jaminan kartu tunggu pasien.
Menurutnya, satu jam lebih menunggu petugas keamanan. Dari jam 10.54 WIB ke ruang penjagaan pintu tengah hingga pukul 12.00 WIB tidak ada satupun pihak keamanan atau Satpam yang jaga/piket.
“Tujuan saya mau ngambil jaminan KTP yang disita sebagai pengganti kartu tunggu, eh pak Satpamnya ga ada. Saya sudah cari kemana-mana dipimpong sana sini. Kok bisa rumah sakit sebesar ini pelayanannya tidak maksimal dan terkesan abai dari tanggung jawab’ jelas DS.
Hasil temuan Intijayakoran.com terungkap, di sejumlah ruangan ditemukan banyak kekurangan, terutama pada fasilitas ruangan yang tidak terawat., dan pelayanan tidak maksimal
Seperti contoh buruknya pelayanan di Ruang Nyi Mas Gandasari, Instalasi rawat inap bedah.
Berbeda dengan pelayanan di lantai 4 yang cukup baik, tertib, maksimal dan bersih. Di lantai 1, selain ditemukan banyak fasiltas yang rusak seperti WC, Wastafel dan lampu kamar tidak berfungsi, juga pelayanannya terlihat kurang maksimal.
Penanganan pasien di lantai 1 ini lebih menonjol dilakukan oleh anak PKL (Praktek Kerja Lapangan) yang kurang berpengalaman yang bisa membahayakan nasib pasien.
Sementara para petugas/pegawai medis disini (lantai 1) sebagian terlihat kurang fokus, dan asyik mendengarkan musik di ruang jaga.
Diruangan HCU juga perlu ada peningkatan dan pengawasan secara maksimal. Secara umum, pelayanan disini cukup baik, petugasnya ramah dan peralatan medis cukup lengkap.
Sayang, di ruang ini tidak disediakan WC umum untuk keluarga pasien. Selain itu diduga terjadi pungutan untuk pasien yang baru masuk ruangan, khususnya pasien bedah operasi.
Keluarga pasien dibebani Rp100 ribu untuk mengganti biaya alat pembersih seperti tisu basah, sabun dan kain handuk yang sudah dibungkus jadi satu bundel untuk kebutuhan pasien.
“Kami ini pasien BPJS, seharusnya memperoleh pelayanan gratis, termasuk obat-obatan dan lainnya. Tapi kenyataannya malah harus keluar uang tambahan,” keluh keluarga pasien yang meminta identitasnya di rahasiakan, Sabtu (28/2/2026).
Salah satu Satpam, Bambang mengaku bahwa dirinya diundang dadakan menghadap pimpinannya di ruang depan, sehingga tempat yang dia jaga kosong tak ada yang piket.
“Sebenarnya yang jaga disini ada 2 orang, cuma satunya keliling mantau lapangan, sementara saya dadakan diundang ke komandan di depan. Maaf yah pak sudah nunggu lama,” ujar Bambang pada salah satu keluarga pasien yang mau ngambil jaminan KTP untuk kartu tunggu, Sabtu (28/2/2026).
Keluhan serupa juga disampaikan oleh sejumlah pasien rawat jalan lainnya yang mengaku tidak nyaman dan dinilai kurang maksimal untuk pelayanan di poly klinik rawat jalan.
“Sayang rumah sakit yang terlihat megah mewah tidak dibarengi peningkatan pelayanan yang bagus dan maksimal,” tambah Karmin (52) warga Indramayu.
Hingga berita ini ditayangkan, belum ada keterangan resmi dari RSD Gunung Jati Cirebon. Intijayakoran.com terus berupaya bisa mewawancarai Direktur RSD Gunung Jati, dr. Katibi MKM untuk klarifikasi soal diatas. (Cho/Red)





