INDRAMAYU, Intijayakoran.com – Pernyataan Bupati Indramayu Lucky Hakim yang menyebut banjir sebagai fenomena alam karena “air datang dari langit, dari hulu, dan dari laut” memicu kritik luas di media sosial. Pernyataan tersebut dinilai tidak empatik dan mencerminkan lemahnya mitigasi bencana di tengah musibah banjir yang melanda sebagian besar wilayah Kabupaten Indramayu.
Dalam video yang beredar luas, Lucky mengimbau warga agar tidak saling menyalahkan atas banjir yang terjadi. Ia menyatakan bahwa kondisi tersebut merupakan akibat alamiah karena Indramayu “dikepung” aliran air dari berbagai arah.
Namun, pernyataan itu justru menuai reaksi keras. Sejumlah warganet menilai pernyataan tersebut sebagai bentuk pengalihan tanggung jawab pemerintah daerah dalam mengantisipasi dan menangani bencana banjir yang terjadi hampir setiap tahun.
Gelombang kritik bermunculan di media sosial. Warga menilai pemerintah daerah tidak peka terhadap penderitaan masyarakat yang rumahnya terendam banjir, sekaligus mengabaikan persoalan mendasar seperti buruknya sistem drainase, penyempitan saluran air, serta lemahnya penataan ruang.
Sejumlah unggahan bernada satire dan sindiran turut viral. Salah satu akun media sosial mempertanyakan secara ironis asal-usul air hujan. Akun lain menyindir pernyataan tersebut dengan ilustrasi bergaya jenaka, yang justru mempertegas kekecewaan publik terhadap respons kepala daerah.

Ungkapan bernada sindiran di unggah oleh media sosial Nang Sadewo. Dalam unggahannya, “Air dari langit, dari hulu, dari laut dan campur kecomberan. Tetap semangat sayangku”, sindir Nang Sadewo sambil memasang foto anak membawa tas berpakaian seragam TK.
Tak kalah kritis disuarakan medsos Yusuf Pers. “Indramayu itu memiliki pemimpin yang hebat, kata bapa reang, air hujan itu datangnya dari langit, dari hulu dan laut. Tapi alhamdulillah, Indramayu belum ada air keluar dari bumi, karena bahaya. Tapi alhamdulillahnya manusia punya takaran air mata pak, dimana kalau air mata derasnya seperti air hujan, kan jadi fenomena, ajaib. Jadi harus bagaimana air hujan yang turun di Bumi Wiralodra?, ini apakah harus dipasang tenda….angel angel bingung jadinya dengan jawaban bapak reang,” tulis Yusuf dalam unggahan medsosnya, Selasa (27/1).
Kritik serupa juga disampaikan oleh berbagai elemen masyarakat dan aktivis pers di Indramayu. Sekretaris Jenderal Forum Perjuangan Wartawan Indramayu (FPWI), Tomi Susanto, menilai banjir kali ini sebagai bukti kegagalan pemerintah daerah dalam menjalankan program mitigasi bencana.
Menurut Tomi, memasuki puncak musim hujan awal 2026, sejumlah wilayah seperti Pasekan, Indramayu Kota, Lohbener, dan Patrol kembali terendam banjir dengan ketinggian air berkisar 20 hingga 50 sentimeter.
“Saya menilai pemerintah daerah gagal dalam perencanaan dan pelaksanaan mitigasi bencana. Banjir ini bukan semata karena hujan, tetapi akibat buruknya pengelolaan infrastruktur dan tata ruang,” ujarnya.
Ia menyoroti pembangunan yang dinilai lebih bersifat kosmetik di pusat kota, sementara persoalan mendasar seperti normalisasi saluran air di permukiman padat penduduk terabaikan. Tomi juga mendesak adanya audit terbuka terhadap anggaran mitigasi banjir yang telah dialokasikan sebelumnya.
Selain itu, Tomi menyinggung keluhan warga terkait lambannya normalisasi saluran air akibat prosedur administratif yang berbelit. Menurut dia, kondisi tersebut mencerminkan lemahnya koordinasi lintas organisasi perangkat daerah (OPD) dalam situasi darurat.
Sorotan juga datang dari Ikatan Wartawan Online (IWO) Indramayu. Ketua IWO Indramayu, Kang Supardi, menyebut banjir yang terjadi sebagai kegagalan sistemik dalam pengelolaan tata ruang. Ia menyoroti penumpukan eceng gondok di sejumlah sungai, termasuk Sungai Cimanuk dan Sungai Ceblok, yang dinilai dibiarkan tanpa penanganan serius.
“Alih-alih menyampaikan langkah teknis, pernyataan yang muncul justru meminta masyarakat pasrah. Ini berbahaya karena mengaburkan tanggung jawab pemerintah,” ujar Supardi.
Di sisi lain, Bupati Indramayu Lucky Hakim telah meninjau sejumlah lokasi terdampak banjir di Kecamatan Pasekan, Lohbener, dan Patrol. Dalam keterangannya, Lucky menyampaikan keprihatinan dan meminta masyarakat tidak saling menyalahkan atas musibah tersebut.
“Buat teman-teman yang saat ini kebanjiran, kami turut prihatin. Banjir itu air dari langit, air dari hulu, dan kadang-kadang dari laut. Kita tidak usah saling menyalahkan,” ujar Lucky dalam video yang diunggah sejak Minggu (25/1).
Musibah banjir yang terjadi sejak Kamis (22/1) tersebut hingga kini masih mendapat perhatian luas masyarakat dan menjadi sorotan publik terkait efektivitas kebijakan penanggulangan bencana di Kabupaten Indramayu. (Cho)





