INDRAMAYU, Intijayakoran.com-
Seringnya kehabisan BBM jenis solar di SPBU wilayah Desa Limbangan Kecamatan Juntinyuat Kabupaten Indramayu Jawa Barat akibat kekurangan stok. Dalam sehari, SPBU ini diisi rata-rata 12.000 liter atau 12 ton. Padahal kebutuhannya banyak bisa mencapai 2 kali lipat, mengingat didaerah tersebut wilayah padat penduduk yang mayoritas berprofesi petani dan nelayan.
Akibatnya, SPBU 34.452.15 di Desa Limbangan setiap harinya hanya melayani 5 jam untuk kebutuhan BBM Solar bersubsidi.
“Saya pernah beli solar jam 9 pagi untuk kepentingan traktor dan mesin sedot sudah habis. Memang benar faktanya begitu, SPBU di Limbangan itu sering kehabisan stok, padahal masih pagi,” terang Karim, Lurah Desa Limbangan.

Akibat seringnya kehabisan stok solar bersubsidi, Karim menilai jelas merugikan rakyat kecil khususnya para nelayan Desa Limbangan dan Lombang, serta para petani yang membutuhkan solar bersubsidi disaat musim tanam.
Pengawas SPBU 34.452.15 Desa Limbangan, Carim yang ditemui Intijayakoran.com, Kamis (19/12) membenarkan bahwa di SBPU Desa Limbangan setiap hari kehabisan stok solar bersubsidi. Menurutnya, setiap hari paling lama jam 2 siang (14.00 WIB) stok solar ludes terjual, atau persisnya 5-7 jam dari mulai diisi tangki jam 5 pagi kiriman dari Pertamina.
Carim yang mengaku sebagai wartawan media nasional dan juga pengawas SPBU Limbangan menjelaskan, pengiriman BBM jenis solar dari pertamina ke SPBU rata-rata sebanyak 12 ton atau 12.000 liter perhari. Caranya, hari pertama pengiriman 8 ton dan hari kedua 16 ton.
“Makanya untuk mensiasati agar para nelayan dapat membeli solar bersubsidi khususnya yang punya barcode yang dikeluarkan dinas terkait dan disetujui BPH Migas, agar para nelayan pagi-pagi jam 8 datang untuk membeli solar bersubsudi. Kami sudah woro-woro memberi tahu nelayan setempat (Desa Lombang dan Limbangan) agar datang pagi membeli solar bersubsidi karena selalu kehabisan stok jika sudah siang hari,” jelas Carim.
Saat disinggung terkait adanya kecurangan dalam distribusi solar bersubsidi untuk para nelayan, pihaknya mengaku tidak tahu. Patokannya, jika ada barcode maka para operator wajib mengisi derigen yang dibawah nelayan. Jika tidak diisi, pihaknya salah dan melanggar aturan.
“Terkait adanya kabar pemberian dari nelayan ke operator Rp 2000 perderigen, itu bukan Pungli melainkan adat ketimuran. Analoginya, saya pesan pasir 1 truk, begitu datang supir truk tadi saya kasih sebungkus rokok, itu bukan Pungli pak” tegas Carim bernada tinggi dan terkesan arogan.
Menurut Carim, dalam sehari sedikitnya 200 derigen yang diisi dari operatornya. “Aja ngitung aose bae sedina olih 400 (jangan menghitung untungnya aja sehari dapat 400, red), terkadang operator juga rugi karena salah pengembalian uang ke pembeli,”tutup Carim yang selalu mengaku dirinya wartawan media nasional, namun saat ditanya Kartu Pers (ID Card), Carim menjawab tidak dibawah dan tertinggal di rumah.
Tokoh masyarakat Desa Lombang, Abdul Ghoni (53) mengaku prihatin dengan seringnya kehabisan stok BBM jenis solar bersubsidi di SPBU Desa Limbangan, karena hal itu sangat merugikan rakyat kecil khusunya para nelayan dan petani Desa Lombang dan Limbangan.
“Demi rakyat dan negara, saya siap tampil didepan, saya akan bongkar kecurangan pendistribusian solar subsidi yang diduga melibatkan okknum pegawai SPBU. Ini jelas Pungli, apalagi ada pengakuan mendapat sogokan 2000 perderigen. Jika minimal 200 derigen perhari, maka mendapat uang Pungli sebesar Rp 12 Juta perbulan atau Rp 144 juta pertahun. Ini layak diproses dan ditindaklanjuti. Yang namanya Pungli, apapun dalihnya yah Pungli dan kategorinya perbuatan yang melanggar hukum,” tegas Abdul Ghoni yang juga aktif di LSM KPK Nusantara Kecamatan Juntinyuat-Indramayu.
Ditambahkan Ghoni, akibat adanya kecurangan distribusi solar bersubsidi yang melibatkan oknum pegawai SPBU, sejumlah supir angkutan umum, supir elf dan nelayan kecil disana seringkali tidak bisa membeli solar bersubsidi untuk kepentingan melaut akibat kehabisan stok.
Usut punya usut, ternyata biang kerok dari langkahnya (sering habisnya) BBM jenis solar akibat adanya dugaan kecurangan pihak SPBU dengan oknum yang memanfaatkan barcode milik nelayan kecil Desa Lombang dan Limbangan untuk mendapat solar bersubsidi. “Biarkan APH yang turun tangan, kami berharap kecurangan distribusi solar bersubsidi distop agar masyarakat dapat membeli BBM solar bersubsudi,”tegas Ghoni. (Cho)





