INDRAMAYU, Intijayakoran.com—

Dewan Eksekutif Mahasiswa Institut Agama Islam Pangeran Dharma Kusuma (DEMA IAI PDK) Indramayu menyoroti dampak keberadaan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Indramayu terhadap masyarakat, lingkungan, kesehatan, serta mata pencaharian warga sekitar.

Suara kritis ini terungkap dalam Diskusi Publik yang merupakan rangkaian peringatan hari jadi kabupaten Indramayu yang ke- 499 tahun yang diselenggarakan pada (07/10/2026) di Kampus Putih Indramayu.

Dalam diskusi tersebut, Eri Irawan narasumber dari Jaringan Tanpa Asap Batubara Indramayu (JATAYU) menyampaikan bahwa apabila PLTU terus dilanjutkan, beban sosial, ekologis, dan kesehatan perlu dihitung secara objektif karena bersangkutan dengan ruang hidup warga.

Eri merujuk pada kajian lembaga independen Center of Economic and Law Studies (CELIOS) dalam melihat konsekuensi ekonomi dan lingkungan dari keberadaan pembangkit berbasis energi fosil.

Kajian CELIOS yang memuat daftar PLTU paling berbahaya menunjukkan bahwa keberadaan PLTU I Indramayu dapat menimbulkan dampak terhadap ekonomi masyarakat, perikanan, pertanian, dan lingkungan.

“Kalau PLTU ini dilanjutkan, jangan hanya menghitung keuntungan ekonominya. Beban sosial, ekologi, dan kesehatan juga harus dihitung, dari CELIOS memperkirakan bahwa jika PLTU Indramayu ini terus masuk dalam RUPTL maka kerugian ekonomi, sosial dan kesehatan warga ditaksir di angka dua triliun rupiah” ujar Eri.

Menurut Eri, aktivitas PLTU juga berimbas pada wilayah tangkap nelayan, termasuk persoalan limbah yang dapat memengaruhi ekosistem perairan. Dampaknya tidak hanya dirasakan nelayan, tetapi juga petani yang berpotensi menghadapi perubahan kondisi lingkungan dan hasil produksi.

“Selama PLTU Indramayu ini berdiri, banyak yang berubah, nelayan yang terpaksa menambah ongkos tambahan, karena jauhnya wilayah tangkap, padi yang gagal panen, dan ketika kita menuntut transparansi dampak dari pemangku kebijakan, tak ada satupun yang berani jujur mengungkapkan”. ungkap Eri.

Dalam forum tersebut, Eri juga membawa perspektif energi baru terbarukan (EBT). Menurutnya, arah pembangunan energi perlu mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap masyarakat dan lingkungan, termasuk persoalan emisi karbon serta kesehatan.

Ada sejumlah temuan DEMA IAI PDK dalam pembangunan PLTU. Menurutnya, seharusnya pihak PLTU memuat kerangka Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL) dari PLTU Indramayu dan disyiarkan kepada publik luas.

Ketua DEMA IAI PDK Indramayu, Akmal Maulana, mengatakan AMDAL harus jadi barang publik yang bisa diakses oleh masyarakat.

“Kita sampai hari ini belum mendengar, melihat atau menemukan AMDAL yang dikeluarkan PLTU, ini penting, karena menyangkut kesehatan, ekonomi, serta sosial warga terdampak dan debunya kan sampai ke Jakarta, Bandung dan Laut Jawa, kami malah menemukan hasil risetnya bukan dari PLTU, tapi dari lembaga Independen yang mengungkap betapa berbahayanya PLTU Indramayu,” ungkapnya.

Bagi DEMA IAI PDK, pembahasan mengenai PLTU menjadi bagian dari upaya memperluas ruang diskusi publik mengenai pembangunan di Indramayu, terutama terkait dampaknya terhadap nelayan, petani, lingkungan, dan kesehatan masyarakat.

Diskusi tersebut juga menempatkan isu energi bersih dan transisi energi sebagai salah satu alternatif yang perlu dibicarakan dalam melihat masa depan pembangunan energi di Indramayu. (Cho/Rilis)

www.domainesia.com
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *